Friday, July 20, 2012

Menjadi Luar Biasa #Wish

Saya teringat dengan obrolan teman saya beberapa hari bahwa kami menemukan, bahwa saya dan dia memiliki satu kesamaan dalam hidup yakni, kami sama-sama ingin menjadi manusia yang lebih baik. Baik dari segi keuangan, karakter, sifat, cara pikir dan lainnya. Sayangnya, terkadang ucapan itu lebih mudah dilakukan ketimbang dilakukan.

Saya juga ingat beberapa belas tahun lalu, saya pernah berjanji kepada Tuhan untuk menjadi orang yang lebih baik. Seorang sahabat karib saya di masa lalu pernah bertanya kepada saya, ingin menjadi apakah saya nanti? Ingin seperti apakah saya dikenang kalau saya tidak lagi ada di dunia ini? Saat itu, saya tampaknya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Namun setelah beberapa belas tahun berjalan, saya rasa apabila teman karib saya bertanya lagi kepada saya pertanyaan yang sama, saya akan menjawab "Saya ingin menjadi orang yang luar biasa. Bukan hanya sekedar baik."

Saya ingin menjadi dan dikenal sebagai orang yang luar biasa.
Luar biasa dalam integritas saya.
Luar biasa dalam prioritas saya.
Luar biasa dalam kerendahan hati.
Luar biasa dalam mempertahankan iman saya.
Saya ingin menjadi dan dikenal sebagai orang tua yang luar biasa.

Ssaya sadar bahwa dunia kita sekarang ini secara mayoritas dengan cepat berubah menjadi dunia yang hanya mementingkan diri sendiri dan memamerkan kesuksesan mereka secara menyolok. Dimana keberhasilan diumumkan sendiri oleh orang yang bersangkutan tanpa rasa malu.

Saya ingin menjadi pribadi yang unik yang dapat berdiri teguh dan tidak tergoyahkan.
Saya ingin menjadi pribadi yang tidak terintimidasi oleh masalah yang saya hadapi.
Saya ingin menjadi pribadi yang tidak takut akan rintangan yang muncul di depan.
Saya ingin menjadi pribadi yang tidak sombong atas keberhasilan yang saya dapatkan.

Saya belum disana. Namun hei, cerita perjalanan saya belum berakhir. Bagaimana dengan Anda? Akan menjadi seperti apakah cerita Anda? Bagaimanakah Anda ingin dikenal dan dikenang?

Apa yang sedang Anda bangun?

Progress always involves risks. You can't steal second base and keep your foot on first. ~Frederick B. Wilcox

Saya selalu melewati jalan yang sama dalam perjalanan pulang ke rumah dan di sepanjang jalan pulang, saya melihat ada sebuah rumah yang cukup besar yang sedang dibangun.

Saya melihat setiap hari para pekerja sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing. Ada yang mengaduk semen, ada yang mengecor, ada yang sibuk menyiapkan material, ada yang mengukur, ada yang sibuk menyiapkan bata dan lainnya.

Disaat yang sama, setelah beberapa kali melihat proses pembuatan rumah itu secara terus menerus setiap hari, saya jadi berpikir, bukankah kita semua juga hidup untuk membangun sesuatu? Mungkin kita tidak secara harafiah membangun rumah, tetapi secara alami, kita sedang membangun sesuatu.

Ada teman saya yang sedang membangun reputasinya sebagai seller yang baik.
Saya dan teman-teman saya, kami sedang membangun karakter kami.
Para teman saya yang sudah menikah sibuk membangun rumah tangga dan keluarga mereka.
Teman saya yang memiliki usaha sendiri sibuk membangun usaha mereka.
Teman saya yang bekerja sebagai investor sibuk membangun portofolio keuangannya.

Bagaimana dengan Anda? Apa yang sedang Anda bangun?

Sangat baik untuk membangun apa pun yang Anda rencanakan dan inginkan. Hanya saja pastikan sesuatu yang Anda bangun tersebut adalah benar-benar sesuatu yang Anda inginkan. Kenapa? Karena Anda yang akan menjalani semuanya itu.

Anda akan menjalani reputasi yang Anda bangun.
Anda akan pulang ke rumah dan keluarga yang Anda bangun setiap harinya.
Usaha yang Anda bangun, akan menjadi tugas Anda untuk Anda pimpin.
Karakter yang Anda bangun, akan menjadi bagian dari Anda nantinya.

Mungkin ada sebagian orang diluar sana yang sedang tidak membangun apa-apa. Mereka hanya berada di area yang itu-itu saja, sehingga mereka tidak terlihat sedang membangun apa-apa. Benarkah? Saya rasa tidak. Untuk saya, yang sedang mereka bangun adalah zona nyaman dan mengikuti arus semata. Salahkah? Tidak.

Hanya saja, tampaknya zona nyaman terkadang menipu. Kebanyakan dari orang yang berada di zona nyaman menginginkan sesuatu yang lebih besar, lebih berarti, namun mereka tidak bergerak. Mereka bingung apa yang harus digerakkan dan bagaimana cara untuk bergerak?
Hasilnya? Mereka tetap berada di tempat tersebut. Jadi, untuk Anda yang berada di dalam zona nyaman, saya mengajak Anda untuk membangun sesuatu yang lebih daripada yang Anda miliki sekarang karena ya, pasti ada dan akan ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada apa yang sekedar Anda punya sekarang.

Jadi, bangunlah sesuatu dimana Anda mau tinggal di dalamnya.
Bangunlah sesuatu dimana Anda akan rindu untuk tinggal di dalamnya.
Bangunlah!
Bangun sesuatu!
Hari ini!

Monday, July 9, 2012

Top Of The World

"Perjuangan pantang menyerah ditunjukkan Regina Ivannova Pollapa untuk meraih mimpinya menjadi penyanyi terkenal. Setelah 6 kali gagal, Regina akhirnya berhasil menjadi juara Indonesian Idol 2012."

Setiap dari kita berusaha mencapai kesuksesan. Cukup banyak dari kita yang dengan mudah merasa iri dengan rekan kerja, dengan saudara, dengan atasan, dengan bawahan, dengan sahabat. Rasa gelisah muncul dan meningkat dengan cepat ketika persaingan meningkat.

Tekanan untuk mendapatkan kesuksesan terasa begitu nyata dan menyakitkan. Cukup banyak dari kita yang belum merasa menjadi 'seseorang' kalau kita belumlah sukses. Semua waktu, tenaga, sumber daya, pemikiran kita curahkan dan habiskan untuk mengejar yang namanya kesuksesan.

Saya salut dan mengacungkan jempol kepada teman-teman saya yang sudah mencapai tingkat kesuksesan dengan berani keluar dari zona nyaman mereka. Berinovasi dengan hal-hal baru atau bahkan bisa memberikan dampak positif yang lebih besar kepada orang lain lewat hidup mereka. Saya berharap saya bisa seperti mereka suatu hari nanti.

Anda dan saya tentu tahu bahwa tidak semua puncak kesuksesan dibarengi dengan pendewasaan diri. Oleh karenanya tidak heran bahwa kebanyakan orang yang paling merasa kesepian dan paling tidak merasa puas adalah mereka-mereka yang berada di puncak kesuksesan. Mereka mungkin telah berada disana, tetapi sebagian besar dari mereka merasa kesepian, kosong, dan berusaha menemukan arti keberadaan hidup mereka.

Kita melhihat begitu banyak orang berbakat dan kita bahkan mendorong mereka untuk maju. Kita berusaha menemukan cara agar membuat orang-orang berbakat ini tetap sibuk tanpa sadar kita menggantikan integritas mereka dengan popularitas. Akibatnya? Karena mereka tidak memiliki akar yang kuat, gelisah dan dangkal dan tidak bertanggung jawab, mereka jatuh. Dan disaat mereka jatuh, kita terkejut dan bertanya-tanya kenapa mereka bisa jatuh.

Lihatlah acara-acara di televisi saat ini dimana hampir semua acara menawarkan kesuksesan awal pada mereka yang berusia muda. Bisa jadi mereka direkrut setelah mereka lulus SMP / SMU dan mereka belum menjalani pelatihan kehidupan. Mereka menandatangani kontrak senilai ratusan juta atau milyaran rupiah per tahun. Mreeka tidak pernah dipersiapkan secara matang akan apa yang harus mereka hadapi. Dan, seluruh mata melihat dan semua mulut tampaknya membicarakan ketika bintang-bintang muda ini jatuh kedalam narkoba, perselingkuhan untuk menenteramkan kekecewaan dan rasa sakit mereka.

Mereka tidak dapat mengontrol kesuksesan mereka. Tepuk tangan, pujian, sorakan mungkin memabukkan mereka. Mereka mungkin tidak tahu tentang nilai-nilai kehidupan yang lebih sederhana dan lebih mendalam. Mungkin lapisan hidup mereka rentan pecah dan kehidupan mereka dihancurkan oleh rasa tergesa-gesa dalam mencari kesuksesan dan perlombaan menuju puncak kesuksesan.

Benar bahwa Anda dan saya kemungkinan besar tidak pernah ditawari kontrak bernilai ratusan juta atau milyaran rupiah. Anda tidak perlu tergesa-gesa dalam mencapai kesuksesan. Kenapa? Karena Tuhan memiliki rencana kesuksesanNya untuk Anda sendiri dan saya. Baik apabila Anda memiliki sebuah bidang yang Anda tekuni. Tetapi cobalah untuk menjadi orang yang pandai dalam bidang apa pun juga. Lakukan yang terbaik yang dapat Anda lakukan dengan apa yang telah Tuhan berikan kepada Anda.

Saya juga berharap seperti pemenang Indonesian Idol 2012, Regina, tidak hanya menorehkan prestasi cukup sebagai Indonesian Idol tapi World Idol dan juga saya harap karakter dia pun sudah terasah ketika dia sedang berada di puncak kesuksesan dia saat ini. Sama seperti Regina, Jika rencana Tuhan adalah membawa Anda ke tingkat kesuksesan yang lebih tinggi, Dia akan melakukan itu dalam waktuNya. Bagian Anda saat ini adalah menyingkir sejenak dari panggung dan memberikan kendali kepadaNya. Biarkan Dia yang mengambil alih. Karena kesuksesan yang Dia berikan kepada Anda mungkin bukanlah tentang uang. Bukan tentang harta. Tetapi saya yakin kesuksesan yang Dia berikan kepada Anda adalah kesuksesan yang berasal dari hati. Dimana hati Anda merasa penuh dan tidak kekurangan apa pun juga.

Mahalnya Keheningan

Everything becomes a little different as soon as it is spoken out loud. - Hermann Hesse

Kata-kata. Semua itu ada dimana-mana. Baik kata-kata verbal maupun non-verbal. Kita mendengar kata-kata verbal dari teman, radio, televisi, gadget kita.

Kita mendengar kata-kata non-verbal dari papan reklame, majalah, surat kabar, spanduk. Bayangkan, di lift pun ada musik. Mungkin Anda tidak terlalu menyadari hal ini, tetapi benar bahwa lift-lift sekarang ini dilengkapi dengan lagu.

Pernahkah Anda ikut bernyanyi saat lagu kesukaan Anda diputar di lift? Saya tidak. Meskipun hal tersebut tidak terlalu berguna, tetapi kenyataannya musik tetap diputar di dalam lift untuk mengisi keheningan.

Ketika Anda masuk ke dalam mobil Anda, segera Anda menyalakan radio, pemutar musik dari CD / iPod Anda. Mungkin bukan hal yang aneh ketika Anda melihat seseorang menggunakan headphone saat mereka mengendarai motor sekarang ini.

Kita dipenuhi dengan kebisingan. Bahkan di bagian terdalam perpustakaan, masih ada orang yang berbisik-bisik dan berbicara. Di dalam bioskop masih ada orang yang sibuk menelpon atau mengobrol pelan. Di gereja pun tidak jarang kita mendengar orang masih mengobrol. Belum lagi saat Anda sedang enak-enaknya tidur, tiba-tiba di depan rumah Anda ada sepeda motor dengan knalpotnya yang bising lewat. (beeuh ..)

Di dunia kita sekarang ini, keheningan adalah sesuatu yang mahal harganya. Kita harus membayar lebih untuk mendapatkan keheningan. Mungkin saya salah, tetapi rasanya harga untuk bisa pergi ke pantai yang indah dan sepi harganya jauh lebih mahal ketimbang pergi ke kota-kota besar yang bising. Betapa terkadang kita perlu memaksa diri kita untuk menekan tombol "pause" untuk semua kebisingan itu.

Tidak semua orang mau mengambil keputusan besar untuk hidup dalam kesunyian. Pernahkah Anda merasa keheningan itu terasa begitu nyata sehingga keheningan itu dapat menulikan telinga Anda? Kalau Anda tidak pernah merasakannya, cobalah di saat rumah Anda mati lampu nanti. Disaat mati lampu, banyak teman saya justru tidak bisa tidur karena suasana terlalu hening. (Diluar tidak adanya AC dan listrik)

Rasanya penting untuk setiap kita menekan tombol pause untuk menghentikan kebisingan yang ada di dalam hidup kita. Dalam keheningan kita mencari makna hidup. Kita dapat menemukan siapa diri kita. Apa kebutuhan kita. Kita dapat berpikir lebih mendalam. Kita dapat berdoa lebih khusyuk. Kita dapat merefleksikan nilai-nilai kita. Kita dapat berjalan dengan lebih enteng. Kita bisa memperlambat hidup kita. Sayangnya, kebanyakan orang menganggap aneh ketika seseorang memutuskan untuk hidup sementara waktu dalam 'keheningan'.

Beberapa dari kita bahkan menjadi sumber kebisingan. Karena kebanyakan dari kita tanpa sadar berbicara terlalu banyak sehingga kita bahkan tidak bisa mengingat apa yang kita ucapkan. Kita telah memberi jawab kepada pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan. Kita menyusun kata-kata, dimana hanya sedikit yang memberikan makna dan menarik perhatian orang lain. Jadi tanpa sadar kita terus berbicara-berbicara-berbicara dan berbicara. Kapan Anda terakhir kali menarik diri untuk masuk ke dalam keheningan?

Retret Rohani bersama Tuhan

"Sometimes its better off from life, and finding yourself in a dark ... with God holding your hands" - Tre Haushinka

Mungkin terdengar sedikit galau, tetapi beberapa hari / minggu terakhir, jujur saya merasa kosong. Seakan saya menjalani hidup sebagai sebuah rutinitas belaka. Hidup saya pun merasa begitu kosong dan sepi.

Beberapa kali saya mencoba untuk melakukan aktifitas ini dan itu namun saya tetap merasa kosong. Saya juga mencoba untuk pergi dengan teman-teman namun akhir-akhirnya saya rasa lebih baik saya pergi sendirian daripada nanti teman-teman saya terkena sindrom galau saya. Sudah beberapa minggu terakhir saya juga selalu ke gereja sendirian dan yes, it not feel so great eventhough the sermon is always great.

Mungkin Tuhan sengaja membuat keadaan saya sepi dan sendiri seperti ini karena Dia ingin mengalihkan perhatian saya kepadaNya? Bisa jadi.

Tadi pagi saya mencoba merenung, berusaha memutar balik pemikiran saya. Berusaha tetap berpikir positif meski susah. Rasanya saya perlu waktu untuk retret rohani dengan diri saya sendiri. Saya perlu menanyakan apa yang menjadi kebutuhan diri saya sendiri. Ingin rasanya saya mengambil liburan dan pergi meninggalkan kehidupan saya untuk sementara. Tidak menulis, tidak berpikir tentang ini itu, tidak berhadapan dengan gadget, komputer. Tidak disibukkan dengan hal-hal lain dan retret ini hanya untuk saya, diri saya, dan Tuhan.

Saya tahu bahwa orang lain akan tetap hidup meskipun saya mengambil cuti retret rohani ini. Kenyataannya, saya ada atau tidak, kehidupan orang lain sebenarnya akan terus berjalan. Terdengar sarkasme dan radikal memang, tetapi orang lain tidak terlalu membutuhkan saya seperti saya membutuhkan menemukan kelegaan rohani ini.

Mungkin tidak terlalu masuk akal, tetapi saya rasa seperti yang saya bilang, untuk saat ini, mungkin Tuhan memang membuat situasi dan kondisinya terlihat seakan-akan pertarungan di ring ini hanya untuk saya dan Tuhan. Kebanyakan dari kita dengan mudah tenggelam dengan rasa galau atau perasaan-perasaan yang membuat kita bersalah. Kita jarang mau mengambil cukup waktu untuk melihat sisi positif dari hidup kita. Kita jarang mau menghitung berapa banyak berkat-berkat yang telah dan pernah masuk ke dalam hidup kita meski hal tersebut terasa kecil dan tidak berarti. Meski saya galau, saya bersyukur atas keluarga, nafas, kesehatan, pekerjaan, Tuhan, pendengaran, teman-teman, pendapatan, waktu, umur dan lainnya.

Anda dan saya perlu berjalan lebih lambat dan melihat pekerjaan-pekerjaan Tuhan lewat hal-hal lain seperti alam. Ketika kita melakukan retret rohani dengan Tuhan, kita tidak memerlukan panduan "Hal-hal yang perlu dilakukan sebelum matahari tenggelam" atau "Sepuluh Langkah Menuju Sukses". Tidak, kita hanya perlu melihat semua hal dengan lebih lambat.

Anda mungkin perlu merenungkan kembali masa lalu Anda.
Anda mungkin perlu merenungkan keputusan-keputusan Anda dan masa depan Anda.
Anda mungkin perlu mengenang apa yang telah Anda lakukan.
Anda mungkin perlu menyusun kembali prioritas dan motivasi-motivasi Anda.
Ya, tentu saja hal tersebut memerlukan waktu. Banyak waktu. Tetapi waktu yang kita habiskan dalam retret rohani kita bersama Tuhan mempersiapkan kita untuk tantangan yang akan datang dalam kehidupan kita.

Hari ini dan esok hari saya masih menjalani retret rohani bersama Tuhan. Saya berusaha secepat mungkin menyelesaikan retret ini meski Tuhan yang memegang kendali atas hidup saya dan Dia ingin saya berjalan lebih lambat bersamaNya.

Thursday, July 5, 2012

Tidur = Asal kemalasan?

No day is so bad it can't be fixed with a nap. ~ Carrie Snow

Beberapa hari terakhir, entah karena memang terlalu banyak pikiran yang mandek, atau memang pengaruh umur yang tidak lagi muda, atau memang karena sedang tidak fit, saya merasa sangat letih dan bawaannya mau pergi ke pulau kapuk di ranjang tersayang.

Bahkan ketika saya bangun di pagi harinya setelah saya puas tidur pun, saya masih merasa kurang tidur. Menangkal rasa kantuk, entah sudah berapa sachet kopi yang saya tenggak untuk membuat kelopak mata ini setidaknya masih terbuka. Lucunya, selagi saya menyeruput kopi saya, pikiran saya menyuruh saya untuk membuat blog tentang masalah tidur ini.

Saya menyadari bahwa tidur adalah sebuah eksklusifitas yang kita dapat selama kita hidup di dunia. Tidur hanya kita dapatkan di dunia. Di surga kita tidak tidur karena kita sibuk memuji Tuhan, hidup bersamaNya. Saya tidak pernah mendapatkan bacaan atau referensi bahwa kita membutuhkan tidur di surga. Di neraka pun kita tidak tidur karena kita sibuk disiksa oleh iblis-iblis. Saya juga tidak pernah mendapatkan bacaan atau referensi bahwa kita boleh meminta waktu sebentar untuk tidur di sela-sela Iblis menyiksa jiwa-jiwa di neraka.

Sadarkah Anda karena Tuhan tidak pernah tidur, maka Iblis pun juga tidak pernah tidur? Tuhan tidak pernah melepaskan pandangannya untuk melindungi dan memberkati kita. Sedangkan Iblis juga tidak pernah melepaskan pandangannya dari kita untuk menipu, mencobai dan menerkam kita. Bahkan di saat kita tidur pun, Tuhan memberkati kita. Dan satu sisi, di saat kita tidur, Iblis masih berusaha menyesatkan kita.

Karena kita masih hidup dalam tubuh yang berupa daging ini, maka kita butuh tidur. Tidur berfungsi untuk memulihkan, menyegarkan. Setiap masalah berat dapat terasa lebih ringan apabila kita tidur secukupnya. Dan setiap dari kita butuh tidur yang cukup. Tuhan Allah menyadari hal ini, dan karena berkatNya yang melimpah seperti udara yang Dia berikan kepada kita secara bebas setiap harinya, maka setiap hari pun kita membutuhkan tidur. Tanaman butuh tidur, binatang butuh tidur, bahkan orang-orang terkeji di muka bumi pun butuh tidur, bukan?

Tuhan mengajarkan dan menyuruh kita untuk hanya tidur SECUKUPNYA. Kenapa? Karena Tuhan tahu tidur yang berlebihan akan membuat kita malas dan kemalasan akan merugikan kita. Saya selalu menyukai ayat dari Amsal tentang kemalasan akibat kebanyakan tidur.

6:9 Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu?
6:10 "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring"
6:11 maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.

Ams. 19:15 Kemalasan mendatangkan tidur nyenyak, dan orang yang lamban akan menderita lapar.

Saya merasa dijewer oleh Tuhan saat menuliskan ayat ini lagi, karena ya, untuk beberapa waktu belakangan saya sering sekali tidur melewati waktu 'snooze' saya dan akhirnya saya merasa kurang tidur dan akibatnya saya menjadi malas. Saya yakin banyak dari Anda semua yang juga memiliki kesulitan untuk bangun pagi atau kebanyakan dari kita ingin pergi tidur disaat setelah jam makan siang atau saat hari sedang hujan.

Benar bahwa kebanyakan orang malas menghabiskan waktu mereka dengan tidur nyenyak. Kalau Anda mengetik kata 'lazy' di Google / Yahoo pun, saya yakin kemalasan diidentikan dengan tidur. Saya jadi ingat akan omelan teman saya saat dia melihat seorang tukang ojek yang sedang tidur di pangkalan ojek di daerah Gunung Sahari. Dia berkata "Gimana mau kaya? Bukannya cari penumpang, siang-siang gini tidur. Muter, kek cari penumpang."

Seperti yang saya tulis di atas bahwa tidur adalah sebuah eksklusifitas. Tidak semua orang dapat tidur secara berkualitas. Banyak saya baca artis-artis atau orang berduit pun memiliki kesulitan tidur. Uang tidak dapat membeli tidur yang berkualitas. Saya rasa kebanyakan dari kita(khususnya saya) perlu melatih hidup tidak malas dan melatih hidup tidak mudah mengantuk atau mudah menjadi malas. Apalagi karena orang Indonesia yang terkenal malasnya dan saya tidak bangga menjadi Indonesia-ers yang malas. Hei! Saya tidak mau hidup miskin di kemudian hari hanya karena saya malas. Dan kekayaan hanya bisa didapatkan kalau kita tidak malas.

Monday, July 2, 2012

Iri : Bentuk ketidak-bisaan Anda menerima diri Anda sendiri

Jealousy is no more than feeling alone against smiling enemies. ~Elizabeth Bowen

Saya rasa sejak jaman Adam dan Hawa, perasaan iri dan cemburu dengan mudah merasuki setiap dari kita.

Begitu banyak pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, perampokan karena motifnya mereka iri dan cemburu akan kepunyaan orang lain. Pepatah rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau menandakan Anda tidak menanam di ladang Anda sendiri. Saya mengambil contoh dari wanita-wanita yang bisa dengan mudahnya iri dengan tubuh orang lain atau tubuh supermodel.

Oke, anggap saja Anda wanita dan Anda tidak merasa nyaman dengan tubuh Anda karena Anda merasa tubuh Anda gemuk atau beratnya diatas rata-rata atau ada timbunan lemak di perut dan lengan Anda dan Anda merasa iri dengan seorang wanita yang bisa dengan mudahnya menggunakan pakaian superketat dan superseksi di mal. Permasalahannya adalah ini :
  • Anda tidak tahu apa yang wanita itu telah lakukan untuk mendapatkan tubuh se'ideal' itu. Anda juga tidak tahu apa yang wanita itu lakukan untuk merawat tubuhnya. Bagaimana kalau tadinya wanita itu beratnya 90kg dan memutuskan untuk secara mati-matian menurunkan berat badannya (Ya, hal tersebut memungkinkan, Anda saja yang mungkin terlalu malas untuk melakukannya?)
  • Kapan terakhir kali ANDA benar-benar berusaha untuk mencapai sesuatu yang dekat dengan usaha wanita itu? Dan seberapa keras Anda bersedia melakukan ini-itu untuk mempertahankannya? (Apabila jawaban Anda adalah esok hari, maaf, Anda tidak akan menurunkan apa pun)
  • Biasanya kalau Anda cemburu, yang terjadi adalah Anda membenci diri Anda sendiri. Apa gunanya untuk Anda? Anda tidak menambahkan apa pun dalam diri Anda dengan membenci diri Anda sendiri.
  • Kenapa Anda mengharapkan sesuatu yang wanita itu miliki, seakan-akan hal tersebut tidak mungkin untuk Anda? Wanita tersebut tidak lahir dengan memiliki gigi yang terbuat dari emas dan berlian, kok. Yang dia miliki hanyalah sebuah tubuh yang sehat dan berbentuk yang bisa juga Anda dapatkan dengan latihan, kerja keras, kemauan, dan tekad serta semangat di tempat gym atau olahraga lainnya.
Mari saya ajak Anda melihat Kitab Yusuf di kitab Kejadian 41:43-45 berikut ini,
41:41 Selanjutnya Firaun berkata kepada Yusuf: "Dengan ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir."
41:42 Sesudah itu Firaun menanggalkan cincin meterainya dari jarinya dan mengenakannya pada jari Yusuf; dipakaikannyalah kepada Yusuf pakaian dari pada kain halus dan digantungkannya kalung emas pada lehernya.
41:43 Lalu Firaun menyuruh menaikkan Yusuf dalam keretanya yang kedua, dan berserulah orang di hadapan Yusuf: "Hormat!" Demikianlah Yusuf dilantik oleh Firaun menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir.

Kalau Anda melihat sepenggal ayat di atas, tentu Anda berpikir "Oh, enak benar si Yusuf, bisa tenar seperti itu. Bisa langsung diangkat raja Firaun." Atau kalau kita mau mencibir dan menuduh Yusuf, kita bisa dengan mudah mengatakan bahwa dia mengkhianati Tuhan dan dia hanya memperdulikan kekuasaan dan uang. Tetapi tahukah Anda cerita lengkapnya?

Yusuf dikhianati oleh saudara-saudaranya dan dimasukkan ke penjara.
Yusuf dijual untuk menjadi budak.
Yusuf dituduh memperkosa istri majikannya dan kemudian masuk lagi ke dalam penjara.
Semua ini terjadi selama kurang lebih 13 tahun lamanya. Dan Alkitab berkata dia melewati semua itu tanpa mengeluh sehingga Tuhan mengangkat dia untuk menyelamatkan bangsa dan keluarganya.

Anda masih iri terhadap ketenaran Yusuf? Ataukah Anda masih mau menjadi seperti Yusuf yang harus melewati semua kejadian itu? Saya tidak yakin Anda mau. Anda lihat, kebanyakan dari kita iri kepada orang lain karena kita hanya melihat apa yang menjadi ujung hidup dari kesuksesan orang lain. Kita tidak mau peduli dan ambil pusing dengan apa saja kejadian yang menjadi proses mereka. Anda tidak tahu apa saja harga yang telah mereka bayar untuk bisa menjadi sukses seperti mereka sekarang.

Dan ini bukan hanya tentang hubungan terhadap sesama, tetapi juga tentang keluarga yang sukses. Pernikahan yang sukses. Perusahaan yang sukses. Gereja yang sukses. Karir yang sukses. Pendidikan yang sukses dan lainnya. Bisa jadi semua itu harus didapatkan setelah melewati beberapa neraka dunia seperti yang dilalui oleh Yusuf. Tetapi perbedaannya, mereka memiliki keyakinan dan iman untuk terus melangkah tanpa mengeluh seperti Yusuf juga.

Masihkah Anda menginginkan berkat yang sama setelah Anda mengetahui latar belakangnya?
Apakah Anda mau untuk melewati itu semua untuk mendapatkan kesuksesan yang sama?
Bisakah Anda tidak terpancing untuk iri setelah Anda mengetahui keseluruhan ceritanya?
Saya rasa setiap berkat yang diturunkan untuk setiap kita tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi pemicu roh iri atau kecurigaan dalam orang lain.

Jadi, jangan habiskan lebih banyak waktu untuk cemburu akan berkat yang didapatkan orang lain. Tuhan akan memberikan Anda secara pasti apa yang Anda butuhkan selama Anda menjalankan apa yang menjadi tugas Anda dan pastikan tugas itu berasal dariNya. Cemburu adalah bentuk Anda memikirkan diri Anda sendiri. Anda terjebak dengan pemikiran Anda sendiri. Iri artinya Anda membatasi kemampuan dan berkat Anda sendiri.

Jangan cemburu akan kemana Tuhan membawa orang lain pergi. Ya, mungkin orang lain sudah pernah pergi jalan-jalan ke tempat-tempat baru dimana Anda belum pernah mendengar nama atau mengunjungi tempat tersebut. Berhentilah berpikir kapan kira-kira Tuhan akan menjamah Anda karena Dia selalu menjamah kehidupan Anda setiap harinya. Hanya saja, Anda yang tidak pernah sadar dan mengerti akan jamahanNya karena Anda terlalu sibuk membaca cerita orang lain tanpa sempat menulis cerita Anda sendiri.

Jadi, lebih baik rubah cara pikir Anda. Lebih baik Anda berpikir bahwa hari ini Anda merasakan begitu besar jamahan Tuhan yang begitu besar dan begitu baik, sehingga karena besar dan baik kasih karuniaNya, ada orang lain diluar sana yang cemburu dan iri akan kasih karunia yang Anda dapatkan dariNya. How's that?