Showing posts with label Travel. Show all posts
Showing posts with label Travel. Show all posts

Monday, April 22, 2013

Traveling Kacau Balau Part 3 (END)

"In the midst of movement and chaos, keep stillness inside of you. "~Deepak Chopra 


Gosok gigi saja gaya
Akibat tidur yang setengah dipaksa, saya akhirnya bangun sekitar pukul delapan pagi, dimana suara burung mengetuk-ngetuk jendela kamar hostel saya (jendela apaan? wong ketutup semua sama tembok), sebenarnya saya masih sangat mengantuk namun apa daya, pergi tidur lagi nampaknya sulit. Akhirnya saya memutuskan untuk gosok gigi dan mandi. Ada kejadian yang membuat mata saya agak melek di pagi hari itu. Yah, namanya juga hostel dimana  pasti banyak sekali orang yang berlainan suku, ras, dan lainnya. Seperti kebiasaan orang Indonesia, gaya saya adalah muka setengah mengantuk, bercelana pendek dan nyeker, saya pergi ke wastafel untuk gosok gigi. Kalau gaya orang bule asal Australia yang menyapa saya di wastafel bertelanjang dada, mengenakan celana 3/4 merek Billabong (KW gak ya?) dan sendal gunung. Nah, kalau gaya wanita Taiwan ini sedikitbeda. Dia mengenakan mengenakan baju Ukenzi warna hitam with no bra, handuk dililitkan ke pinggang dan sepatu boots. #gakboong

Susah kalau Singlish, laar ...
Untuk sebuah hostel, kamar mandinya cukup banyak, ada 2 kamar mandi dan satu toilet masing-masing di kanan kiri di masing-masing lantai. Setelah mandi dan beres-beres serta mengecek itinerary, saya nongkrong saja di lobby sembari menunggu Aca untuk bangun karena hari ini saya akan ditemani olehnya. Dia memang mengatakan dia mungkin bangun agak siang karena sudah 2 malam susah tidur. Sedangkan jam baru menunjukkan pukul 9 pagi. Karena bosan, saya akhirnya memutuskan untuk mencari dimana daerah Bras Basah  karena salah satu itinerary saya adalah mencari efek gitar di daerah sana. Maafkan saya tetapi kalau saya mendengar daerah Bras Basah, tetapi jangan-jangan arti dari Bras Basah adalah : Beberapa beha yang basah? #hush. Saya bertanya kepada anak muda yang menjaga resepsionis hostel dan dia menjelaskan di peta. "You see we are here, laar. And then you just go straight ahead. its only 5 minutes from here if you walk, laar. not far." #singlish

Breakfast aja jauh yak
Saya menyadari kalau Bugis, Bras Basah dan city hall sangat dekat alias satu jalur perjalanan. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi saja berkeliling ke City Hall sekalian cari udara segar dan foto-foto. Saya pergi ke city hall karena memang masih ada beberapa barang yang saya cari disana dan toko yang saya cari buka pukul 10 (berdasarkan websitenya), saya melewati Raffles City dan saya suka bangunannya. Gaya klasiknya membuat saya berpikir mungkin akan sangat bagus untuk memfoto klien untuk prewedd di sana. Sesampainya di City Hall, ternyata hingga pukul 10 lewat, toko-toko belum buka. Akhirnya saya hanya sarapan baso ikan disana dan memutuskan untuk kembali ke hostel.

Kepingin jadi pencuri deh saat ini
Aca sudah bangun dan sembari saya menunggu dia mandi, saya berkeliling hostel dan saya baru sadar ternyata ada sebuah lemari yang dipajang di dinding berisi banyak figur Snoopy! Ya ampun, saya pengen colong piguranya kalau bisa (oops). Saya juga ngobrol-ngobrol dengan pemilik hostel yang mana ternyata orang Surabaya. (ya ampun! kalau gitu ngapain saya sok-sok pake bahasa inggris ngobrolnya toh pak?). Dia bercerita dia pindah ke singapura sejak 1996, tapi istrinya masih di surabaya. Jadi hanya dia dan anaknya yang sekarang mengurusi hostel tersebut.

Pertama kalinya beli barang BM
Akhirnya sekitar pukul 11, Aca sudah siap dan kami pun pergi ke arah Ferrer Park. Saya minta ijin kepadanya untuk setelah dari Ferrer Park, saya harus pisah karena saya masih banyak urusan yang harus saya cari dan pesawat saya berangkat sore hari. Sebelum ke Ferrer Park, dia mengecek dulu harga casing Samsung Note II di outlet resmi. Rata-rata harganya sekitar $68. Begitu sampai ke Ferrer Park, kami langsung mengarah ke toko langganan Aca dan memang sepertinya Aca sering sekali beli barang di toko ini karena hampir semua pegawainya mengenal Aca. Bahkan Aca saja menyebut mereka dengan 'brother' (ya jelas brother lah, wong mereka sama-sama terlihat India. Coba saya yang bilang brother, mungkin mereka mikir "Sapa loe?").

Dan memang kalau saya baca reviewnya, toko ini ramai karena harganya miring dan kualitas barangnya bagus. Akhirnya Aca membeli casing untuk note II. Kalau di outlet harganya $68, di toko langganan ini harganya hanya $32. Saya agak senyam-senyum kalau dengar Aca ngomong Inggris. Maklum dia orang Makassar, jadi logatnya agak medok, plus dia ngomong ke orang India.  Anda tahu lah logat India seperti apa. Bayangkan logat Makassar berbicara Inggris dengan logat India versi Aca : "Brother, let me look the Note II case laar. I want to see that one. For me. Usual price laar ya?". Cukup bikin saya tersenyum lebar. 

Setelah urusannya selesai, Aca membantu saya membeli ipad mini 16gb wi fi untuk saya. Kalau harga ipad mini 16gb di outlet resmi singapore adalah $448, saya mendapatkan harga hanya $410 di toko langganan Aca. Memang harga di toko ini miring karena tidak ada garansi toko tetapi untuk barang Apple masih bisa diklaim ke outlet Apple resmi (katanya). Sebenarnya saya kurang begitu nyaman bertransaksi dengan orang India karena mereka terkesan agak memaksa. Ketika kita bilang tidak pun, mereka masih agak memaksa kita. 

Setelah selesai membeli ipad mini, saya berpamitan kepada Aca dan berterima kasih atas waktu dan chat selama saya berkenalan. Tidak lupa kami pun bertukar nomor telepon untuk kontak-kontak lagi di lain waktu. Setelah selesai dari Ferrer Park, saya langsung mengkontak temen saya @RachelIMelda untuk janji bertemu siangnya. Tidak lupa saya ke Bugis Junction untuk membeli buku di Kinokuniya dan membeli titipan mangga. Untung @Rachel memberitahu saya tempat membeli mangganya kalau tidak mungkin saya akan buang-buang waktu.

Yeay! Charlie's Brown Cafe @Sommerset
Selesai dari Bugis, tujuan saya berikutnya adalah : Charlie Brown's Cafe. Yap! Karena saya penggemar Snoopy, maka tempat ini adalah tempat yang wajib saya kunjungi. Sebenarnya tempat ini sudah lama tapi saya tidak mengetahuinya. Bahkan setelah beberapa kali ke Singapura pun saya tidak tahu. Akhirnya setelah mencari letaknya di 313 Sommerset, saya bisa mencobainya. (Oh ya, kata teman saya @liyll Ly, kafe Charlie Brown ini juga sudah hadir di Hermes Place, Medan). Saya memesan hot cappucino dengan chocolate melt. Semua hal disini berbau snoopy, lampu interiornya, kacanya, wallpapernya, makanannya, bahkan sampai waitress yang bertugas pun mengenakan baju kuning dengan motif yang sama dengan yang digunakan Charlie Brown! (I WANT IT!!)

Bertemu dengan si cantik @RachelImelda
Tidak lama kemudian, teman saya @RachelImelda datang. Kami bertemu sekitar pukul setengah dua karena dia tinggal di daerah Punggol (ujung ke ujung) Sudah lama sekali saya tidak bertemu dengannya, jadi kami bertemu di Charlie Brown's Cafe dan memutuskan untuk berjalan-jalan di Orchard untuk menghemat waktu. Sedikit tentang @RachelImelda. Dia adalah seorang wanita yang manis, senyumnya menggugah, lumayan tinggi, mantan pramugari SQ dan agak pemalu (jangan tanya seperti orangnya ya)

Paul Bakery @Takashimaya
Dia menjelaskan beberapa toko-toko baru di daerah sana dan memang benar seperti katanya, Orchard sudah tidak lagi sama dengan sebelum-sebelumnya. Banyak pembangunan baru yang dilakukan disana-sini karena tidak mau kalah dengan Marina Bay. Saya ditunjukkan oleh Rachel beberapa tempat makan yang sedang happening di Orchard, salah satunya adalah Paul Bakery. Paul Bakery ini bisa dibilang breadtalk-nya Eropa, karena hampir di semua pengkolan, bakery roti ini mudah ditemui. Saat saya lihat memang bakery ini terkesan mewah karena selain roti, bakery ini juga memiliki restorannya sendiri. bahkan mungkin Tours les Jours di jakarta tidak ada apa-apanya. Tidak heran kalau  kalau weekend, bakery dan restonya full dan antrian pun panjang. Untuk Anda yang tertarik mencoba atau berkunjung, letaknya ada di dalam Takashimaya ya. 

St.Leaven
Saya juga mencobai roti bakery lainnya, yakni St.Leaven (atau four leaves) saya mencobai dorayaki dan juga mantau spesialnya. #haruscobaindeh, dari jalan-jalan mengelilingi bakery ke bakery, saya dan imel menuju plaza singapura untuk mencari titipan docmart teman saya, namun akhirnya cancel karena tidak sesuai. Agar mengobrol lebih nyaman, kami memutuskan untuk makan di suatu tempat. Saya dan @Rachel akhirnya memutuskan untuk makan di Medz. Tempat ini nyaman namun sayang agak sepi dan ternyata tempat ini gabung dengan Paulaner. Pantas saja birnya disupport oleh Paulaner. Saya memesan Salmon Skewered dengan segelas Heinken sedangkan @Rachel memesan nasi kari. Sungguh enak salmonnya loh. 

Eating at Medz
Sebenarnya saya tidak enak mengobrol dengan @RachelIMelda karena pada saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore sedangkan penerbangan saya pukul 6.10, sehingga dia sepertinya menangkap kecemasan saya akan miss flight (apalagi dia juga tahu kejadian saya ketinggalan pesawat), saya sebenarnya juga tidak enak karena kami bertemu dengan mepet apalagi acara makan yang harusnya dibarengi dengan kehadiran suaminya, jadi batal lagi untuk kesekian kalinya. Maaf ya @RachelIMelda.

Perjalanan pulang! OTW Changi...
Jadilah saya berpisah dengan teman saya yang cantik itu dan segera buru-buru ke Changi Airport. Saya berjanji next time, saya akan menginap lebih lama agar semua perjalanan saya nyaman. Dia hanya tertawa dan mengiyakan. Tujuan berikutnya : Pulang! Ternyata perjalanan dari Orchard menuju Changi itu lama ya. Saya deg-degan dan sedikit-sedikit melihat jam tangan saya karena takut ketinggalan pesawat. Akhirnya saya sampai di Changi sekitar pukul 5 kurang sedikit. Langsung saya mencari gate check in saya dan ternyata ada di gate 12, dan ternyata itu gate paling ujung!! Jadilah saya berlari-lari lagi, sungguh susah untuk berlari karena perut saya masih kenyang sekali, jadi sedikit-sedikit saya berhenti, menarik napas dan belari lagi. Kalau saya disuruh menghentikan bom, saya jamin bom itu sudah meledak duluan.

Shock jantung gate 12
Ketika saya sampai di Gate Tiger Airways, saya mencari gate keberangkatan saya dan Anda tahu apa yang saya baca? "TR 2276 to Jakarta : FLIGHT CLOSED!" Langsung jantung saya seakan mendadak berhenti. Masa kejadian yang sama kejadian dua kali? Pulang pergi ketinggalan pesawat? #Shoot! Langsung saya menyelak antrian yang tidak terlalu ramai dan dengan nafas terengah-engah. Petugas gate, seorang keturunan India melihat saya keheranan. Berikut percakapan saya :
Tre :"Are the flight to Jakarta are really closed? I Missed The plane?" 
Miss India : "Yes sir, you do missed the flight!"  (Somebody kill me now)
Tre : "Really? Seriously? Again?"
Miss India :"Yes sir, you are missing the plane IF the plane didn't delay. But since its having delay for two hours, you can still come aboard into the airplane."

Pujian yang bikin blushing
Langsung semua kecemasan saya hilang! Horee! Saya bisa pulang! Melihat saya senyum ceria seperti anak hilang yang telah ditemukan, si Miss India pun tersenyum saat dia meminta paspor saya dan dia menanyakan hal ini "Sir, you are 31? Really?" Saya jawab iya, dia meneliti muka saya setengah tidak percaya. Yes Ma'am, i know i still look like 18. Langsung saya masuk ke bagian imigrasi dan entah kenapa kejadian yang sama di Jakarta sedikit terulang. Kali ini tiga orang hitam disuruh menuju sebuah ruangan. Saya langsung mencari gate kepulangan saya untuk memastikan dan benar bahwa pesawat saya delay selama dua jam, jadi saya memutar-mutar di bandara. Jujur, saya setengah panas dingin akibat berlari-lari, jadi akibatnya saya migren, mual, pusing. Jadilah saya berdiri sok cool melihat papan penerbangan ditengah-tengah jalan karena saya yakin kalau saya berjalan lagi, saya pasti muntah. (bayangin anak kecil, pake celana 3/4, sepatu kets, gendong tas backpack lumayan gede warna merah, berpangku tangan, melihat dengan sok cool papan informasi penerbangan. #gakbangetya?)

Heaveeenn....
Setelah merasa baikan, saya mencari tempat pijat kaki OSIM yang memang ada di bandara karena kaki saya sakit sekali. Sayang tidak ada Nano reflexology disana. Akhirnya setelah beberapa antrian, giliran saya dan jujur, adalah surga sekali ketika kaki saya dipijat oleh mesin. terima kasih teknologi. Setelah merasa baikan saya ngalor ngidul mondar-mandir di bandara hingga waktu keberangkatan, saya membeli beberapa buku. Dan maaf untuk teman-teman, saya tidak membeli oleh-oleh karena tas saya sudah sangat berat (psst.. sudah 11kg pas saya timbang)

Harusnya kenalan tuh gue ...
Ketika sudah waktunya untuk pulang, saya langsung masuk ke dalam karantina penumpang dan menyerahkan semua barang saya untuk dipindai di tempat scanner. Saat saya mengambil barang saya, seorang wanita disebelah saya tidak sengaja mendepak muka saya dengan barang bawaannya. Setengah berkunang-kunang saya melihat orangnya kecil namun dia membawa 3 bawaan supergede. (Habis belanja, mbak?) .. Langsung dia minta maaf. Dengan pipi yang memar dan juga dengan sok coolnya, saya hanya tersenyum kepadanya. Saya masuk ke dalam untuk menunggu pesawat dan duduk di salah satu bangku tunggu, tidak lama dia pun masuk juga dan melihat kepada saya sambil berbisik tanpa suara "Sorry ya". Saya lagi-lagi hanya tersenyum saja. 

Saya duduk di pojok belakang dan dia duduk di samping kanan. Saya terkadang curi-curi pandang melihat dia dan saya juga menyadari dia juga terkadang curi-curi pandang kepada saya. Jujur, sempat terlintas di pikiran saya untuk kenalan saja, tapi saya bukan tipikal pria dewasa yang kenalan di tempat umum (udah single-desperate masih aja sok gaya). Akhirnya saya membereskan barang-barang yang saya bawa dan mengacuhkan dia. Akhirnya panggilan kursi saya tiba dan saya masuk ke dalam pesawat, saat antrian pesawat, saya pun melewati dia, dan lagi-lagi dia minta maaf karena tadi sudah menghajar muka saya dengan barang bawaannya. Lagi-lagi saya hanya senyum. Saya sempat bertanya kepadanya "barangnya berat ya?" Dia hanya tersenyum cekikikan dengan muka memerah. Cantiknya ... tapi seperti emotikon Yahoo Messenger yang sok cool itu, saya malah diam dan masuk ke dalam antrian ketimbang kenalan. Di dalam pesawat, ternyata si wanita itu masuk lumayan terakhir (mungkin karena barang bawaannya banyak), dan dia kesulitan untuk mencari tempat memasukkan barang di kabin. Akhirnya dia dibantu oleh pramugara dan dia duduk di seat 8A, sedangkan saya di 14F. Kesempatan itu pun terbuang sia-sia. Sedikit menyesal.

Nyaris muntah
Karena saya masih merasa tidak enak badan, panas dingin dan nyaris muntah, saya melihat ke arah jendela, berharap saya baikan. Namun tiba-tiba ada aroma yang paling saya benci melintasi hidung saya, yakni bau minyak kayu putih! Demi Tuhan, wanita di samping saya dengan seenak jidatnya mengolesi bagian bawah hidungnya, sisi telinganya, alisnya dan dibawah bibirnya berkali-kali dengan minyak kayu putih! Ingin rasanya saya buka jendela dan menjulurkan kepala saya keluar (mungkin dengan lidah terjulur seperti anjing?) sungguh tersiksa rasanya, akhirnya saya beberapa kali keluar masuk toilet untuk menghirup oksigen dan saya memesan kopi panas. Saya lebih memilih menghirup kopi panas ketimbang minyak kayu putih. Kalau tidak ada kopi tersebut, mungkin saya sudah muntah ke wajah wanita penjaja minyak kayu putih itu. 

Selamat datang Jakarta
Akhirnya saya touchdown Jakarta. Saya langsung bergegas keluar dari pesawat dan masuk ke terminal karena saya benar-benar tidak tahan dengan bau minyak kayu putihnya, saya langsung mencari gate keluar. Diluar saya sudah janjian dengan teman saya yang baru juga pulang dari Surabaya. Karena lapar yang amat sangat, jadilah kami berdua mencari makan, tujuan saya? Kwetiaw Akiaw. Dan ternyata sungguh tidak enak makan ketika kepala pusing, perut mual tapi lapar, badan panas dingin. Setelah mengantarkan teman saya pulang, saya langsung menuju rumah, pulang, mandi tidur. Dan saya tidur dengan keadaan panas dingin tanpa AC.

Note: sebenarnya perjalanan saya kali ini akan lebih manusiawi kalau saja saya tidak ketinggalan pesawat, kehilangan itinerary dan pesan hotel dari jauh-jauh hari. Saya merasa perjalanan kali ini benar-benar tidak ada gunanaya karena barang yang saya mau rata-rata tidak ada. Yang ada hanyalah keluar uang lebih untuk nothing. Tapi yah, hitung-hitung pelajaran dari pengalaman kali ini. Oh ya, terima kasih loh kepada @laureenMargareth yang sudah tidak sabar membaca kelanjutan travel part 3 ini, berhubung sudah diposting. Hutang gue lunas yaa. #wink 

Thursday, April 18, 2013

Traveling Kacau Balau Part 1

"In the midst of movement and chaos, keep stillness inside of you. "~Deepak Chopra 



Everything out of the plan ... Begitulah perjalanan travel saya kali ini ke Singapura. Berbekal tiket promo dari Tiger Airways selama 2 hari 1 malam. Saya sudah menyiapkan itinerary sebaik-baiknya. Hanya saja mungkin memang saya tidak boleh ke sana untuk trip kali ini? Entahlah. Gejala awal (#memangpenyakit?) sebenarnya sudah terasa 2 hari sebelum keberangkatan. Rencana saya untuk ke Singapura adalah untuk membeli efek gitar, hunting kuliner serta bertemu dengan teman-teman saya di Singapura. Jadi saya berniat untuk membeli kamera digital FujiFilm X20, namun setelah saya mencari di dua toko distributor di Jakarta, kamera tersebut kosong stoknya. Di situ perasaan saya sudah mulai tidak enak akan kepergian ini. #entahkenapa

"Kebiasaan" sebelum traveling
Sebuah kebiasaan saya kalau sebelum pergi travel pasti tidak bisa tidur dan perut agak keram karena tegang ketakutan ketinggalan pesaawat. Apalagi pesawat penerbangan saya adalah pukul 9.45. Jadi berangkatlah saya pukul 7 pagi dan tiba di bandara terminal 3 Soekarno Hatta sekitar pukul delapan kurang sepuluh pagi. Kenapa terminal 3? Karena teman saya yang baru pulang dari Bangkok menggunakan Tiger Airways juga menggunakan terminal 3, plus, saya pernah menanyakan kepada Tiger Airways lewat twitter dan telepon untuk menanyakan apakah semua penerbangan Tiger Airways berada di terminal 3? Pertanyaan saya dibenarkan. Langsunglah saya memarkirkan mobil saya di tempat parkir inap terminal 3 dan dengan pe-denya masuk ke bandara dengan tiket di genggaman tangan.

Ketinggalan pesawat
Namun saat saya menyodorkan tiket saya ke petugas, dikatakan saya salah terminal. Petugas mengatakan apabila kode penerbangangannya adalah TR, penerbangan dilakukan di terminal 2D. Tetapi apabila kodenya RI, penerbangan di terminal 3.  Karena penasaran saya juga mengecek ke bagian reservasi tiket dari Tiger dan mbak-mbak yang sedang sibuk mengunyah nasi bungkusnya juga membenarkan bahwa semua penerbangan Tiger Airways berkode TR berada di terminal 2.  Dan setelah saya mengecek ulang tiketnya, memang terlihat ada tulisan kecil dengan font sekitar 6pt yang mengatakan koder TR di terminal 2D. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul setengah 9 pagi. #waks

Langsunglah saya lari seperti orang kesetanan menuju mobil untuk pindah ke terminal 2. Karena dikejar-kejar waktu, saya sungguh tidak sabar melihat petugas parkir inapnya mengecek surat-suratnya dan dia tidak menemukan berapa lama saya parkir (ya iya lah mas, wong baru aja parkir) dia akhirnya bertanya "Parkirnya sejak kapan ya?" Langsung saya jawab "Baru masuk pak, saya gak jadi parkir! salah terminal" Barulah dia dengan sigap mengerjakan ini itu. 

Setelah keluar dari tempat parkir, saya tidak menemukan tanda petunjuk arah "Terminal 2", yang saya temukan hanyalah "Jakarta" dan "Perkantoran". Berbekal dengan skill geografi yang nilainya hanya 4, menujulah saya ke Jakarta. Dan betapa stressnya ketika saya mengetahui saya menuju arah pulang!! #doublewaks … Untungnya di ujung jalan sana ada putar balik, langsung seperti Rifat Sungkar, saya mengemudikan mobil saya seperti orang gila, zig-zag sini dan sana dengan klakson tanpa henti. Sesampainya saya di terminal 2, saya tidak lagi memikirkan parkir inap, saya langsung mengunci pintu mobil, mengambil tas travel dan lari menuju bagian keberangkatan. (Ternyata saya memang sangat kurang olahraga karena lari dari parkiran ke departure area sudah membuat saya nyaris mati kehabisan nafas karena bengek #noted)

Saya langsung menyerahkan tiket saya ke petugas bandara dan mata sang petugas pun membelalak kaget melihat jam keberangkatan saya dan menyuruh saya buru-buru masuk ke counter. Dia menanyakan kenapa saya baru datang sekarang? Saya jawab ketus "Ketipu terminalnya." Dan apa yang terjadi di counter? Saya tidak diperbolehkan lagi masuk ke dalam pesawat. #WHAT? Padahal penerbangan masih 45 menit lagi dan saya tidak membawa bagasi sama sekali. Saya mencoba meminta pengertian kalau saya salah terminal akibat informasi dari Tiger Airways sendiri dll. Akhirnya petugas itu mengontak kru lain dengan HT-nya namun hasilnya nihil .Juga ada bersama saya sepasang suami istri yang juga mengalami hal yang sama karena mereka juga mendapat info keberangkatan akan dilakukan di terminal 3. Sungguh aneh, bagaimana mungkin saya tidak diperbolehkan masuk? 

Akhirnya dengan sangat dongkol, saya sempat terpikir untuk tidak usah pergi sekalian ke Singapura. Namun karena harga diri dan keperluan tidak penting yang dipenting-pentingi itu #halah, akhirnya saya mencari tiket penerbangangan lain yang pergi hari itu. Hanya tersisa penerbangan dari maskapai SQ (1.6 juta), Cathay (1.4 jt), Lion Air (1.815). Saya sudah sempat menyerah untuk pergi tetapi petugas Lion sepertinya melihat muka imut saya yang sayu ini dan dia menawarkan pergi pukul 3 sore dengan harga tiket 400rb. Tanpa pikir panjang saya langsung #bayartunai … Dan akhirnya baru sadar, kalau tiket promo Tigernya nggak jadi promo karena ditambah 400rb barusan. Hiks. Tidak lupa saya juga memberitahukan kepada suami istri itu untuk membeli tiket Lion Air apabila mereka masih mau pergi ke Singapura. Pelajaran kali ini : Cek kembali tiket Anda, baca semua tulisan yang ada, meskipun tulisan tersebut menggunakan font yang terkecil sekalipun!!!

Berhubung jam baru menunjukkan pukul 10, sedangkan flight saya jam 3 sore, saya menghabiskan waktu di bandara untuk duduk-duduk, mondar-mandir, BBM-an dengan teman-teman saya sembari breakfast di resto Old Town White Coffee, mengamati ini itu, telponan dengan @sibawel, BBM-an dengan @mieke dan @andreasmieke. Dan berikut adalah kejadian-kejadian yang terjadi selama saya menunggu  : 

Malu dengan kelakuan orang Indonesia
Benar bahwa bandara Soetta sekarang tergolong bandara kecil dengan daya tampung penumpang namun hal itu tidak membuat Anda serta merta dapat seenak jidatnya duduk di tengah-tengah jalan peron bandara, bukan? Saya melihat ada banyak ibu-ibu bapak-bapak dengan anaknya yang seenak jidatnya duduk-duduk tengah-tengah jalan. Tidak masalah untuk saya kalau Anda duduk-duduk di pinggir-pinggir tembok. Tetapi tengah-tengah jalan? Sangat menyusahkan untuk penumpang lain untuk bisa lewat. Bahkan ada sepasang suami istri turis bule yang kesulitan untuk lewat karena masing-masing membawa 2 troli dan istrinya berkomentar "My God, What are they doing in the middle of the road? Do they think this airport is for picnic?"#malumaluin

Adegan dramatis
Saya melihat seorang ibu melepas anaknya pergi bersama suaminya. Sang anak bertanya kenapa sang ibu menangis dan sang anak tidak mau pergi kalau ibunya tidak berhenti menangis. Curi-curi dengar, ternyata ayah-ibu sang anak bercerai dan sang anak akan dibesarkan oleh si ayah di Manado.

Kejadian di bilik toilet
Saat saya buang air kecil di bilik toilet, ada seseorang di sebelah bilik saya (entah petugas kebersihan atau penumpang lain) yang menyemprotkan airnya sehingga menyapu lantai ke bilik saya dan mengenai sepatu saya. Saya tidak tahu air apa itu, tapi bagaimana kalau ternyata air itu bekas air kencing atau air kotor?#jijik... Akhirnya saya gedor bilik orang tersebut dan mengatakan kalau ada orang di dalam bilik ini. Tidak ada kata minta maaf atau apa, yang saya dengar hanya dua detik kemudian pintu bilik tersebut terbuka dan sang pelaku pergi.

Tentang parkir inap
Karena saya masih memiliki banyak waktu di bandara, saya memutuskan untuk memindahkan mobil saya yang berada di parkiran umum ke parkiran inap terminal 2. Sebelumnya saya bertanya ke petugas parkir umum, dimana letak lokasi parkir inap, beberapa petugas mengatakan lokasinya jauh dan saya tidak perlu memarkirkan inap mobil saya. Cukup parkir ditempat umum, seandainya nanti tiketnya menunjukkan saya sudah memarkirkan mobil lebih dari 12 jam, otomatis akan dianggap parkir inap. Untuk saya, sama sekali tidak masuk akal. Kalau seandainya benar, lalu apa gunanya di sediakan parkir inap? Untuk lebih pastinya saya menuju ke tempat Customer Service dan menanyakan dimanakah letak lokasi parkir inap, ternyata tempatnya berada cukup jauh dari bandara yakni di dekat perkantoran bandara. 

Saya menanyakan kebenaran dari petugas parkir umum tadi dan ternyata benar dugaan saya, informasi tersebut salah. (bayangkan berapa besar uang yang perlu saya keluarkan kalau seandainya saya jadi parkir di parkir umum?) Saya menanyakan juga kalau seandainya saya memarkirkan mobil saya disana, bagaimana saya ke bandara terminal 2? Petugas customer servicenya mengatakan nanti akan ada mobil xenia / avanza yang akan mengantarkan saya balik ke bandara. Yang saya takutkan, kebiasaan orang Indonesia pasti harus memberikan uang lebih kalau ada jasa antar begitu (kecuali free shuttle ya), belum lagi tingkat keamanannya bagaimana? Mengingat saya nanti akan pulang ke Jakarta pada malam hari. Akhirnya karena ke parno-an yang tinggi, saya memarkir-inapkan mobil saya di terminal 3 lagi saja.

Berlanjut ke part 2 : Klik ini

Wednesday, April 17, 2013

Traveling Kacau Balau Part 2

"In the midst of movement and chaos, keep stillness inside of you."~Deepak Chopra 


Oke, ini bagian dua dari travelku yang kacau balau kali ini...

Pembentakan di bagian imigrasi Jakarta
Saat saya datang ke bagian imigrasi untuk pengecekan paspor, di depan antrian saya ada antrian sekitar 5-6 orang, entah apa yang terjadi, orang yang sedang dicek paspornya diomeli oleh petugas paspornya dan disuruh menuju suatu tempat untuk mengecek kembali paspornya, kontan serempak 5-6 orang yang sedang antri di depan saya melongok dan ikutan stress, ternyata 5-6 orang tersebut adalah teman yang tadi dibentak oleh pihak imigrasi. Dan ternyata benar, 5-6 orang itu pun akhirnya disuruh entah kemana oleh petugasnya. Saya sudah berpikir, jangan-jangan saya juga nanti dibentak nih oleh petugas, jadi saya pasang senyum manis saja. Dan semuanya berjalan lancar. Saya sempat menanyakan kepada petugas kenapa 5-6 orang itu dibentak. petugas imigrasi mengatakan paspor mereka sudah habis masa berlakunya. #ooh..

Pindah Gate keberangkatan
Berjalanlah saya ke Gate F5, tempat saya menunggu. Selama 20 menit menunggu, muncullah pemberitahuan bahwa kami harus pindah Gate ke F2. Padahal saya sedang enak-enaknya mencharge handphone saya. Seenak jidat benar memang Indonesia ini. #ampunminah. Akhirnya pindahlah kami semua ke gate F2, menunggu kedatangan pesawat dan terbanglah saya ke Singapura. Di dalam pesawat, karena diharuskan mengisi form kedatangan, saya mencari pulpen saya, dan setelah mengubek-ngubek tas, pulpen saya hilang. Benar-benar hilang, padahal tadi pagi saya masih menggunakannya untuk mencorat-coret itinerary saya dan saya ingat jelas saya sudah memasukkannya ke tas saya. Saya tiba di Singapura sekitar pukul 6 sore, yang mana berarti saya hanya memiliki waktu sekitar 4 jam (karena toko-toko tutup sekitar jam 10-11 malam), langsung lah saya mengebut perjalanan dari bandara Changi ke pusat kota. Tidak lupa foto-foto sana-sini sembari menunggu. 

Itinerary saya hilang
Tujuan pertama saya adalah City Hall, karena memang efek gitar yang saya mau ada di daerah Peninsula Excelsior. Setibanya disana, saya dibuat stress karena hampir semua toko sudah bersih-bersih untuk tutup, padahal masih jam 7 malam. Langsung saya mencari toko yang saya maksud, dan saya mengeluarkan itinerary saya untuk memastikan ada di lantai mana toko tersebut berada. Toko tersebut tidaklah besar, banyak orang sedang mengobrol di bagian kasir, rata-rata berpenampilan rocker gahar gitu, langsung saya mendekati mereka yang sedang mengobrol dan ketika saya bertanya, mereka semua melihat saya seakan-akan mereka melihat makhluk mungil dari planet lain. Seorang tua berpenampilan seperti Kitaro dengan rambut panjang yang setengah putih melayani saya dan efek gitar yang saya mau HABIS! Dia menanyakan apakah saya mau memesannya, tapi saya bilang saya harus pulang esok hari. Dia kaget dan tidak bisa berkata apa-apa. Saya menanyakan apakah ada toko lain yang menjual efek gitar yang saya mau. Jawabannya : toko tersebut hanya satu-satunya yang menjual efek tersebut. 

Dengan lunglai saya keluar dari toko itu dan bertanya-tanya ke beberapa toko gitar lainnya yang buka, siapa tahu ada yang menjual namun hasilnya nihil. Akhirnya saya keluar dari gedung tersebut dan berniat untuk menuju tujuan lainnya dan tebak apa? kertas itinerary saya hilang! Benar-benar hilang. Padahal belum 10 menit saya melihatnya. Kenapa semua barang saya hilang? Saya sampai mencari-cari di dalam tas saya, mengeluarkan hampir semua barang di tas saya, mencari di semua selipan tas, saya akhirnya masuk ke dalam gedung dan menyusuri semua jalan yang saya lalui, siapa tahu terjatuh di lantai, namun hasilnya nihil. Saya langsung pusing, stress, ditambah perut yang krucuk-krucuk karena lapar, dan saya tidak tahu harus bagaimana.Hampir 15 Menit saya cengo seperti sapi ompong karena tidak percaya betapa cerobohnya saya, bagaimana mungkin kok bisa kehilangan banyak barang, untungnya saya masih sempat memisahkan tiket saya ke tempat yang berlainan dengan itinerary saya, kalau tidak, bisa jadi saya tidak bisa pulang. 

Kejadian beli Simcard Singtel
Akhirnya saya memutuskan saya harus menuju Bugis Junction karena ada beberapa titipan teman dan saya bisa mencari makan di Bugis. Sepanjang perjalanan saya memikirkan apa yang harus saya lakukan. Sesampainya di Bugis, hal pertama yang saya lakukan adalah membeli kartu telepon sana. Setidaknya saya masih bisa browsing atau mencari info yang saya butuhkan lewat internet. Saya menuju toko Singtel di Bugis dan store itu pun penuh dengan customer. Saya melihat-lihat brosur dan keterangan untuk mencari tahu apakah mereka menjual kartu prepaid unlimited data untuk iphone yang berlaku hanya untuk 1 hari. Saya bertanya ke counter dan mereka menyuruh saya untuk membeli simcard di kasir. Di kasir, saya tidak dilayani dengan baik, dia hanya menyuruh saya membeli simcard dan mengaktifkannya sendiri. 

Setelah membeli simcard, saya kebingungan mencari push pin untuk membuka tempat simcard saya karena simcard di iPhone menggunakan eject system dengan semacam peniti. Saya keliling di toko tersebut mencoba mencari siapa tahu ada yang bisa meminjamkan saya peniti atau sejenisnya namun semua terlihat sibuk. Saya akhirnya dibantu dengan seorang customer service yang mungkin melihat saya begitu kebingungan. Seorang wanita dengan senyum ramah, kulit putih, mata sipit, wangi tubuh yang harum #apacobaaa … Dia membantu saya hingga akhirnya saya bisa mengaktifkan celular data di iPhone saya dan saya bisa brosing #horeee

Makan malam super-tidak-enak
Tujuan berikutnya adalah makan malam. Perut saya benar-benar sudah lapar sekali dan saya naik ke foodcourt di Bugis, resto pertama yang saya lihat, itu yang saya pesan. Saya melihat menunya dan saya melihat ada makanan dengan tulisan Osaka Curry Rice + Side Dish & Wafu set seharga 5.90 ditambah dengan gambar jempol super gede di sampingnya. Oh ya, tidak lupa ada tambahan promosinya yakni, the best Curry Rice in Singapore .. dengan mantap saya memesan makanan tersebut dan rasanya? #hueeeks … gak enak sama sekali. benar-benar tidak terasa apa-apa. Baik sosisnya, telur setengah matangnya, nasinya, semuanya tasteless. Saya hanya memakan seperempat makanan itu.

Nomornya berapaa?
Setelah makan super sedikit itu, saya pergi ke toko Guardian membelikan teman saya titipannya dan saya mendatangi toko aksesoris kesukaan saya di Bugis, yakni 77th Street. Semua akseseoris yang dia jual hampir semua saya suka. Adik saya juga menitip kalung salib untuk pacarnya jadi saya berniat untuk memfoto kalung-kalung salib yang dijual dan mengirimkan fotonya lewat whatsapp. Dan ketika saya masuk ke whatsapp, saya diminta memasukkan nomor yang baru saya beli. Waks!! Saya tidak tahu nomornya. Nomornya ada di bungkusan plastiknya namun bungkusan plastiknya tersobek saat saya membukanya. Akhirnya saya meminta tolong kepada perempuan muda yang sedang menjaga toko. Saya meminta nomor teleponnya agar saya bisa menelepon ke dia dan saya ingin melihat nomor telepon saya. Dia tertawa dan senyum-senyum ketika saya menjelaskan permasalahannya. Dia meminta saya memberikan bungkusan sim card yang saya beli dan entah darimana dia memberitahukan kalau nomor handphone singtel saya adalah sekian-sekian. #hebatdia

Sial lagi di penginapan
Tujuan berikutnya adalah mencari tempat menginap karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah 11 malam dan saya sudah capek, letih, bau, kucel. Saya ingin mandi dan istirahat. Saya langsung menggunakan aplikasi peta yang ada di iPhone saya, akhirnya saya menemukan hostel yang saya maksud, ternyata tempatnya tepat di seberang Bugis Junction. Seorang yang melayani saya adalah seorang ngko-ngko yang mukanya terlihat familiar, saya menanyakan apakah ada kamar tersisa, dia mengatakan ada, harganya 15 dollar. Dia menelepon ke bagian bawah untuk memastikan dan sial! kamar tersebut sudah dipesan orang 10 menit sebelum saya datang. yang tersisa hanyalah 1 kamar besar untuk 3 orang seharga 50 dollar. Mau tidak mau saya pesan! Hiks.. Maunya murah kok jadi mahal semua ya.

Pertemuan dengan Aca
Akhirnya saya mandi, beres-beres, menenangkan diri di kamar sambil membereskan barang-barang di tas backpack saya. Karena bosan di kamar saya pergi ke ruang tamu dan berbincang-bincang dengan si pemilik hostel sambil numpang mencharge iPhone saya. Karena letih, saya beristirahat di sofa dan di situ saya bertemu dengan Aca, nama aslinya Abdullah Rozak namun panggilannya Aca. Mukanya tipikal timur tengah, orangnya kecil, berasal dari Makassar dan dia membeli 2 buah samsung Note II 4G. Akhirnya saya dan dia mengobrol banyak, panjang-lebar-alas-kali-tinggi. Saya mengatakan kalau saya ingin membeli ipad mini, dan dia mengajak saya ke tempat beli gadget dengan harga miring di daerah Ferrer Park. Dia sudah langganan di toko ini sejak 2011. Meskipun barangnya BM, tetapi selama ini, barang yang dibeli baik-baik saja. Saya tertarik dan menyetujui untuk besok pagi pergi bersama-sama dengannya. Akhirnya karena letih saya minta ijin untuk balik ke kamar. 

Di kamar pun saya masih whatsapp-an dengan @sibawel, @RachelImelda, @Madeline hingga waktu menunjukkan pukul 1 malam. Dan saya tidak bisa tidur sama sekali karena saya menyadari kamar tersebut sedikit tercium asap rokok, AC-nya dingin sekali, selimutnya tipis, suara mobil lewat, bunyi keprak-keprok sandal orang berjalan, pintu yang sering sekali dibuka-tutup, bahkan hingga pukul 3.43 saya masih bisa mendengar suara orang ketawa-tiwi di lorong. Saya bayangkan mungkin ini rasanya kalau tinggal di tempat kos. Selamat tidur.

bersambung ke part 3 (nanti yaa)

Monday, March 18, 2013

Penginapan Murah di Singapura


“He who does not travel does not know the value of men.” - Moorish proverb


Kalau biasanya saya menulis tentang leadership, atau hal-hal rohani, kali ini saya mencoba menulis tentang travel. Saya berencana untuk pergi (lagi) ke Singapura untuk satu malam namun saya memiliki kendala soal tempat menginap. 

Ada beberapa pemikiran yang sempat terlintas dalam pikiran saya. Pilihan pertama adalah  tidur saja di bandara atau di taman, tetapi mengingat umur yang semakin tua dan kondisi fisik yang tidak lagi semuda dulu, tampaknya pilihan tersebut tidak saya ambil. Pilihan ini gugur.

Pilihan kedua adalah menginap di rumah kenalan saya yang tinggal di Singapura, tetapi rasanya saya sendiri yang tidak enak menginap di tempat mereka mengingat saya sendiri jarang kontak ke mereka dan tiba-tiba nongol untuk menginap.. mmm, harga diri saya seakan terkoyak. Belum lagi ada beberapa dari mereka yang sudah menikah dan memiliki anak. Pilihan ini pun gugur.

Pilihan ketiga adalah mencari tempat menginap murah meriah alias hostel/backpacker. Yap! Ini adalah pilihan yang sebelumnya tidak saya pikirkan. Berarti ini pertama kalinya saya akan tidur ala backpacker di Singapura. Bisa saja sih saya menginap di hotel mewah macam Marina Bay Sands, tetapi untuk apa? Toh, saya sendirian dan saya hanya satu malam dan tidak membawa bagasi apa-apa. Biasanya saya menginap di apartemen apabila saya mengunjungi singapura namun itu pun sekitar 80-150 dollar semalam, sedangkan saya mencari tempat dengan harga dibawah 50 dollar saja.

Jadilah saya search di internet dan saya menemukan beberapa tempat lokasi yang menjadi kawasan backpacker di Singapura lewat situs lonely planet.  Untuk Anda, yang membutuhkan info ini, berikut adalah tempat-tempatnya:

1. Backpackers Cozy Corner
Penginapan ini termasuk yang paling murah di sana karena memiliki harga mulai dari SGD 12 (Rp 90.000) hingga SGD 60 (Rp 450.000). Untuk yang belasan dollar adalah jenis dormitori atau kamar barak dan campur. Kamar campuran ini dilengkapi dengan kipas angin. Bagi perempuan yang tak ingin tidur dengan lawan jenis bisa memilih dormitori khusus wanita. Bagi Anda yang kurang nyaman tidur bersama orang lain, bisa juga memilih kamar privat.

Tersedia sarapan dan akses internet, namun Anda harus bergantian untuk menggunakan komputer yang ada di sana. Penginapan ini berada di kawasan Bugis, beralamat North Bridge Road No 490. Namun harga akan sedikit lebih mahal saat sedang musim liburan. Anda bisa mengecek tempat ini di http://www.cozycornerguest.com/Index.html

2. Summer Tavern
Penginapan ini memiliki beberapa jenis kamar antara lain dormitori, kamar standar dan kamar eksklusif. Harga kamar di sini berkisar dari SGD 25 (Rp 180.000) hingga SGD 60 (Rp 450.000). Harga di atas sudah termasuk sarapan jadi Anda tak perlu kuatir masalah makan pagi. Penginapan ini berada di kawasan Colonial District dengan alamat Carpenter Street No 31, dekat dengan Clark Quay. Cek websitenya di www.summertavern.com atau pesan tempat di reservations@summertavern.com

3. Fernloft
Penginapan Fernloft akan mengajak tamunya merasakan rasanya membaur dengan masyarakat Singapura. Penginapan ini berada di komplek perumahan tradisional Singapura. Alamatnya ada diBlk 5 Banda Street #02-92 Singapore. Berada di kawasan Chinatown, penginapan ini dikelilingi warung dan restoran murah. Meski begitu, Fernloft tidak terlalu besar dan hanya memiliki satu kamar mandi. Harga yang ditawarkan mulai dari SGD 20 (Rp 150.000) hingga SGD 60 (Rp 450.000), harga tersebut sudah termasuk sarapan. 

4. Inn Crowd
Jika ingin menginap di kawasan Little India, maka salah satu pilihannya adalah Inn Crowd. ( Beralamat di 73 Dunlop Street, Historic Little India Conservati Singapore) Penginapan tipe backpacker ini termasuk bersih dan pelayanannya baik. Tersedia loker gratis bagi para tamu dan internet gratis di beberapa komputer yang disediakan di sana. Penginapan ini juga menyediakan tiket yang lebih murah untuk masuk ke beberapa kawasan destinasi wisata di Singapura. Harga menginap di sini mulai dari SGD 20 (Rp 150.000) hingga SGD 80 (Rp 600.000).

5. Prince of Wales
Penginapan ini memiliki konsep yang lebih anak muda. Tersedia pub bergaya Australia di sini. Meski terlihat hingar-bingar, penginapan ini memiliki kamar dormitori yang bersih dan luas. Ada 2 kamar privat dengan kamar mandi di luar. Prince of Wales berada di kawasan Little India dengan alamat Dunlop Street No 101. Harga yang ditawarkan untuk menginap di sini mulai dari SGD 20 (Rp 150.000) hingga SGD 60 (Rp 450.000). Cek websitenya di www.pow.com.sg/

6. Fragrance Backpackers Hostel
Fragrance memiliki banyak cabang yang bergerak dalam penginapan dan Fragrance Backpackers Hostel salah satunya. Ruangan yang bersih dan keamanan yang terjamin jadi daya tarik bagi banyak turis. Kasurnya terbilang nyaman dan ada loker seukuran tas backpacker yang disediakan bagi para tamu yang menginap di dormitori. Penginapan ini berada di Dunlop Street No 63, di kawasan Little India. Harga menginap per malam mulai dari SGD 22 (165.000) hingga SGD 25 (Rp 190.000).

7. Hangout @ Mt Emily
Satu lagi penginapan murah di Singapura yaitu Hangout @ Mt Emily. Letaknya cukup strategis karena berada dekat dengan Orchard Road, Colonial District dan Little India. Ada 7 kasur yang tersedia untuk menginap di kamar dormitori. Kasurnya cukup bersih dan empuk. Penginapan ini juga memiliki rooftop, perpustakaan, cafe, akses internet gratis, dan ruang santai yang luas lengkap dengan plasma TV. Hangout @ Mt Emily beralamat di Upper Wilkie Road No 10A. Harga yang ditawarkan mulai dari SGD 40 (Rp 300.000) hingga SGD 200 (Rp 1,5 juta). 
Cek penginapan ini di : www.hangouthotels.com/singapore/


Apabila Anda memiliki tempat backpacker tambahan, jangan ragu untuk menambahkan di bagian komentar. Duuh, jadi tidak sabar untuk mencicipi pengalaman tidur ala backpacker. Siapa tau saya ketemu jodoh saya ketika menginap ala backpacker. #curcol #ngarepbangetsih .. Selamat berlibur.

Tuesday, January 10, 2012

Couchsurfing - Menjadikan turis asing menjadi lebih 'lokal'

"Oit, Tre. Jangan lupa nanti malem ada pertemuan Couchsurfing malam ini di Mbah Jingkrak jam 8 malam. Sepertinya asyik juga kalau kita ketemuan bareng dengan rekan-rekan CS lainnya. See U there!"

Pesan singkat itu masuk dalam telepon genggam saya, 24 Oktober lalu, dari seorang penjelajah dunia asal Lisbon, Portugal, bernama Ciro Rendas (29). Ciro yang bekerja di bidang manajemen itu selama ini telah mengunjungi tidak kurang dari 45 negara. Pertemuan CS yang dimaksud Ciro adalah kumpul-kumpul sembari makan malam bersama anggota jaringan pertukaran keramah-tamahan yang disediakan proyek CouchSurfing (CS) internasional.

Couchsurfing adalah jejaring sosial pertukaran budaya dan keramah-tamahan yang digagas oleh Casey Fenton, progammer komputer yang juga penjelajah dunia asal Conway, New Hampshire, Amerika Serikat yang memulai proyek CouchSurfing pada tahun 2000. Saat ini sekurangnya sudah ada 1.4 juta anggota yang tersebar di 231 negara. Cara kerja jaringan sosial CS ialah dengan bersedia menjadi tuan rumah bagi setiap anggota jaringan lain yang tengah berkunjung ke negara atau lokasi di mana kita sedang tinggal. Tentunya, kita pun bisa menumpang tinggal di kediaman salah satu anggota jaringan yang tersebar di 231 negara itu. Kita bisa menginap di rumah salah anggota jaringan sosial CS dan begitu juga sebaliknya. Menumpang tidur diatas matras, kasur, atau sofa yang sangat tergantung dari kesediaan dan kesiapan tuan rumah.

Ciro bersama pasangannya yang asal Estonia, Kaisa Ansper (26), adalah salah seorang yang menyetujui dan meneruskan ide Fenton itu sampai di tingkat praktis. "Kami sedang menunggu pekerjaan di Kuala Lumpur, Malaysia. Begitu dinyatakan oke, kami berangkat" kata Ciro yang menggemari sejarah pendudukkan Portugis di Indonesia itu. Bersama Kaisa, Ciro menumpang di rumah salah satu seorang Cs-ers yang juga pernah didatangi pada kesempatan sebelumnya saat ia berkunjung ke Jakarta.

Provokasi
Malam itu, kumpul-kumpul dan makan malam yang diinformasikan Ciro diselenggarakan di Restoran Mbah Jingkrak yang berada di jalan Setiabudi Tengah 11, Jakarta Selatan. Acara itu dimulai dari semacam provokasi yang dilakukan seorang anggota jaringan CS asal Singapura bernama AKhsay Wagh (24), saat ia sedang mencari teman nongkrong bareng ketika ia berada di Jakarta pada 24-26 Oktober lalu. Dalam jejaring itu, semua anggota jaringan CS disebut sebagai CSers. Ajakan nongkrong bareng itu dilempar Akhsay di dalam grup Jakarta yang ada di situs couchsurfing.org dan langsung disambut antusias.

Seorang CSers di grup Jakarta, Diana Yusuf (28), lalu mengatur pertemuan itu, termasuk memesan tempat untuk makan. Dari 30 orang yang mengonfirmasi kedatangan, dengan lima orang yang mungkin datang, ternyata acara malam itu dihadiri hingga sekitar 50 orang. Tidak kurang penyanyi Nuraini Sukoningrum Tamam yang dikenal sebagai Nina Tamam (34), kini anggota grup 5 Wanita, datang pada acara yang dimulai oleh provokasi Akhsay itu. "Gue baru gabung bulan September kemarin," kata Nina.

Nina Tamam yang bersuamikan Erikar Lebang itu mengaku motivasinya bergabung dalam jejarin CS karena pengalamannya mengikuti pertukaran pelajar beberapa tahun silam. Sejak itu Nina Tamam tidak pernah ingin berhenti untuk mengetahui budaya-budaya lain, tempat-tempat berbeda, dan bertemu dengan orang-orang baru. Menurut Nina Tamam, pengalaman seperti itu jelas berbeda ketimbang menjadi turis yang selama ini kerap dilakoninya bila bepergian ke luar negeri. "Bukannya nggak enak dan nggak senang. Tapi akan lebih senang lagi kalau ada teman lokal yang bisa kasih tunjuk tentang hal-hal yang ada, tapi nggak tertulis soal daerah sekitar," tutur Nina.

Sekalipun belum pernah menjadi tamu jaringan CS di negeri lain, Nina Tamam yang kelahiran Surabaya, 29 Maret 1975, itu amat gembira bisa menjamu beberapa teman barunya yang asal Norwegia dan Singapura selama mereka di Jakarta dan mengajak mereka jalan-jalan. Ia menambahkan, karena pada dasarnya senang serta hobi bertemu orang dan jalan-jalan, maka jejaring CS yang mempertemukan orang-orang dengan minat jalan-jalan makin membuat kesenangan dan hobinya itu mendapatkan tempat yang sesuai.

"Kalau jadi nih, ... tanggal 7 sama 8 (November) nanti kami akan ke Garut. Tanggal 3 nanti baru mau diomongin lagi gimana-gimananya. Bergabung?!?" tulis Nina Tamam melalui email. Rencana jalan-jalan ke Garut itu buah provokasi seorang CSers asal Kolkata, India bernama Sudeep Ghosh yang tengah bekerja di Jakarta. Motivasi serupa diutarakan pula oleh Dyah Pratama, seorang CSers yang sehari-hari bekerja sebagai staff humas pada salah satu perusahaan barang-barnag kebutuhan masyarakat di Jakarta yang pada malam itu turut hadir. Kata Dyah, akan sangat menyenangkan jika ia tidak merasakan sendirian saat tengah berada di negara asing dan bisa berinteraksi langsung. Dyah menambahkan, untuk pengalaman menjadi tuan rumah memang lebih banyak menuai cerita seru. Itu seperti problem bahasa dan kendala interaksi dengan penghuni lain di rumah.

Namun, imbuh Dyah, menjadi tuan rumah bukan berarti melayani sampai harus bolos kerja segala dengan menemani tamunya jalan-jalan. Karena itulah, bagi kebanyakan CSers, biasanya mereka meminta satu pekan sebelum jadwal kunjungannya sudah ada pemberitahuan sebelumnya. Calon tamu juga diminta maklum dengan aneka aturan tuan rumah yang mungkin berbeda-beda. Nina Tamam, misalnya, sudah mewanti-wanti bahwa bersama Erikar Lebang mereka bukanlah pasangan yang mengkonsumsi rokok. Jadi, tamu yang datang dan menumpang menginap di rumah mereka juga diminta untuk tidak merokok.

Motivasi
Motivasi supaya bisa berkeliling dunia dalam 80 hari, seperti kisah dalam novel klasik karya Jules verne, diungkapkan Clara Felisia yang adalah seorang praktisi periklanan, saat ia memutuskan untuk menjadi salah seorang CSers. Felis, panggilannya, mengatakan khusus untuk jaringan CS grup Jakarta adalah yang terbilang paling aktif dibandingkan grup-grup kota lain, semisal Bandung atau Semarang. Menurut Felis, jaringan CS grup Jakarta termasuk yang paling sering melakukan kegiatan, entah itu buka puasa bersama, silahturahmi Lebaran, atau merayakan hari kemerdekaan saat tanggal 17 Agustus. Anggota grup Jakarta pada jejaring couchsurfing.org per 1 November tercatat 845 orang. Jumlah itu jauh lebih banyak dibandingkan dengan grup Surabaya yang baru beranggotakan 114 orang. "Tapi aku melihat kenaikan jumlah orang yang bergabung dalam CS di Indonesia pada pekan-pekan ini cukup signifikan. CS memang seperti virus, virus yang bagus." kata Ciro Rendas.

Ia menambahkan, dirinya telah beberapa kali bertemu dengan CSers pemula dari sejumlah negara yang pada kesempatan pertemuan selanjutnya selalu telah kembali dengan cerita-cerita bahwa mereka baru saja mengunjungi sejumlah negara. Menjelang acara itu berakhir, Diana Yusuf mendekati saya dan Ciro yang sedang berbincang serius, "Maaf, apakah yang ada di antara kalian yang belum patungan?" ujar Diana yang mengorganisasi dan memesan tempat makan malam itu. Maka, patungan sebesar Rp.50.000,- malam itu rasanya masih lebih kecil dibandingkan persahabatan yang tak ternilai yang malam itu segera kami jalin bersama-sama dengan puluhan CSers lain dari sejumlah negara.

Tertarik untuk menjadi member couchsurfing? Klik langsung ke sini

Wednesday, December 7, 2011

Lawatan ke Bangkok 29 Nov - 2 Des 2011


"Pertama kalinya menginjakkan kaki ke Bangkok. Rasanya? Tidak beda jauh dengan Jakarta. Hanya saja bisa dibilang Bangkok versi lebih beradab, lebih menyenangkan, lebih menakjubkan, dan lebih membingungkan."


Setelah sekian seringnya saya mendengar teman-teman saya bercerita pengalaman mereka tentang Bangkok, akhirnya saya untuk pergi mengunjungi Bangkok untuk pertama kalinya. Saya melihat Bangkok sebagai sebuah kota yang penuh dengan budaya tradisional dan masih terasa mistis yang bercampur dengan intensitas gempuran modern di sekelilingnya membuat kota ini menjadi sangat menarik untuk dikunjungi.

Cerita sebelum keberangkatan.
Bisa dibilang proses kepergian adalah proses yang sangat rumit. Kenapa? Karena tiket pesawat Air Asia yang saya pesan sebenarnya adalah untuk tanggal 16-19 November dan kami sudah memesan tiket itu 8 bulan sebelumnya. Namun apa kata, banjir besar melanda Thailand sempat memupuskan harapan untuk pergi mengunjungi Bangkok. Namun Air Asia memberikan beberapa opsi yakni;
1. Pindah tanggal keberangkatan sebelum tgl 15 desember 2011
2. Pindah rute dengan syarat tiket yang dibeli memiliki harga sama atau lebih mahal.
3. Tiket yang sudah dibeli di depositkan maksimal 3 bulan sejak tanggal cancel.

Setelah berdebat sana-sini antara saya dan teman-teman, mencari kabar tentang Bangkok disana-sini, dengan hektik yang terjadi disana-sini juga, akhirnya diputuskan tanggal keberangkatan menjadi tanggal 29 Nov - 2 Des yang sialnya ternyata salah satu teman saya tidak bisa pergi karena esoknya ada ujian negara dan menjadi bridesmaid untuk pernikahan temannya, sehingga akhirnya jumlah peserta travel kali ini hanyalah 4 orang termasuk saya.

1. Bandara Suvarnabhumi.
Bandara Suvarnabhumi cukup lumayan untuk saya. Tidak berbeda jauh dengan bandara Changi dari segi interior. Bedanya bandara Suvarnabhumi memiliki banyak ornamen khas Thailand yang disebar di beberapa pojok bandara. Namun sepertinya lebih luas bandara Suvarnabhumi karena mencari gate kedatangan saja rasanya dari ujung ke ujung.

2. Hotel.
Kami menginap di hotel Pratunam Pavillion di daerah Ratchaprarop.Ternyata perjalanan ke hotel cukup menyiksa karena harus jalan kaki bawa koper dengan jarak kurang lebih 2km melewati daerah seperti Pasar Baru. Yang lebih mencengangkan lagi ketika masuk ke dalam kamar hotel yang kami pesan. Ya ampun, desain ruangannya seperti kamar hotel esek-esek. Dengan kamar mandi yang bisa dibuka tirainya (jadi kita bisa liat siapa yang lagi mandi), lampu bulat berwarna pink yang berada tepat di tengah plafon ruangan, oh ya jangan lupa ditambah dengan sikap kasar resepsionisnya juga. Ck ck ck. Di hari terakhir kami menginap disana, saya baru menyadari ternyata gambar kamar yang dipasang di brosur dengan aslinya sama sekali berbeda. Entah kamar hotel siapa yang dipasang di brosurnya.

3. Makanan.
Secara keseluruhan, makanan di Thailand cukup enak, tidak beda jauh dengan Jakarta hanya saja bedanya, makan di Bangkok lebih terasa nyaman kalau Anda memilih untuk makan di daerah pinggiran atau kaki limanya, karena saya tidak menemukan adanya pengamen, pengemis, preman. Dan seandainya pun Anda makan di pinggiran, asap knalpot kendaraan tidak mengganggu karena sepertinya kendaraan disana cukup terawat karena tidak ada bus yang mengeluarkan asap seperti di Jakarta.

Porsi makanan pinggiran di thailand bisa dibilang cukup besar dengan isi yang banyak. Teman saya sempat memesan tom yam di pinggir jalan seharga 50 baht (15ribu) tapi isinya? komplit-plit-plit. Udangnya banyak, dagingnya besar-besar, dan kuah tom yamnya berasa banget. Mantab. Sepanjang saya melihat, banyak sekali makanan pinggiran yang dijual, mulai dari buah-buahan (mangga, jambu, semangka dll), sate bakso-sate sosis-sate dan sate-sate lainnya. Sebagian ada yang mirip-mirip dengan makanan Indonesia. Hanya saja apabila Anda memilih untuk makan di pinggiran, perhatikan kebersihannya karena saya melihat ada beberapa pedagang yang maen-comot makanannya langsung dengan tangan, tidak menggunakan alat bantu pengambil makanan, tapi kalau Anda tidak masalah. Hajar!!

4. Shopping.
Bangkok surga shopping? Benar sekali. Bisa dibilang Bangkok adalah Hongkong kedua. Sangat mudah menemukan orang yang berjualan di bangkok. Mulai dari mal megah seperti MBK, Siam paragon, Platinum Fashion Mal hingga ke emperan. Semua dijual. Dari peralatan listrik, sabun, sendal, pakaian, celana dalam, koin, perangko, peralatan masak, suvenir, dll. Harganya juga bersaing. Saya sempat melihat kaos yang dijual di mangga dua seharga 50-60rb bisa dijual dengan harga 20-30rb/pcs di Bangkok. Tidak heran saya bertemu dengan banyak orang Indonesia yang memborong barang-barang belanjaan di tempat perbelanjaan di Bangkok untuk dijual lagi di Indonesia.

Untuk oleh-oleh, sebenarnya banyak orang mengatakan bahwa Chatuchak adalah tempat yang cocok untuk oleh-oleh, namun karena waktu kepergian saya tidak memungkinkan untuk ke Chatuchak, saya membeli oleh-oleh saya di Siam Paragon saja.

5. Transportasi.
Ada beberapa macam transportasi di Bangkok. Mulai dari Monorel BTS (Bangkok Train Skyway), MRT, Taxi, Tuk-tuk hingga ojek. Bisa dibilang, sebagian besar uang saya habis untuk BTS. Saran saya, lebih baik Anda membeli tiket smart pass sehingga transportasi BTS Anda lebih murah. Atau kalau Anda pergi rombongan, lebih baik naik taxi karena jatuhnya lebih murah dibandingkan BTS/MRT.

Lagipula kalau Anda naik taxi, Anda bisa mengistirahatkan kaki Anda sejenak. Kaki saya sampai mati rasa karena kebanyakan jalan dari pagi sampai malam, berpindah-pindah dari stasiun MRT yang satu ke yang lain. Saya lebih sering menggunakan taxi-meter di Bangkok, mudah dikenali karena warna taxinya pink berglitter. Saya sendiri menemukan taksi yang mau mengantar kemanapun dengan biaya 1000 baht/ 12 jam. Kontek personnya adalah dengan Mr.Tong (08-60717830)

Saya yakin, Jakarta bisa sebaik Bangkok transportasinya kalau saja Jakarta membuat MRT/BTS karena yang terjadi adalah memang masih terjadi kemacetan, namun kemacetan itu teratur, tidak semrawut dan masyarakat disana menjadi lebih tertib karena adanya BTS dan MRT.

6. Places of Interest.
Sebenarnya banyak sekali tempat menarik di Bangkok. Namun karena keterbatasan waktu, dan biaya, berikut review tempat-tempat wisata yang saya kunjungi :

--------------------------------------------------------------------

Siam Paragon - The Pride of Bangkok
Siam Paragon berada di perhentian stasiun BTS : Siam (baca: Seyam). Bisa dikatakan Siam Paragon adalah shopping centre terbesar di Asia. Terintegrasi dengan Siam Center, Siam Discovery Center, dan berseberangan dengan Siam Square. MBK centre juga berada tidak jauh dari Siam Paragon dan juga Central World. Oleh karena itu, bisa dikatakan Siam Paragon adalah Mal kebanggaan orang Bangkok.

Siam Paragon menjual barang-barang branded seperti Gucci, Chanel, Balenciaga, Valentino, Kenzo, Hermès, Bottega Veneta, Giorgio Armani, Jimmy Choo, Chloé, Dolce & Gabbana, Burberry, Salvatore Ferragamo, Cartier, Bally, Fendi, Zara, MNG, Versace, Louis Vuitton, Givenchy, Marc Jacobs, Emporio Armani, Hugo Boss, Prada, Ermenegildo Zegna, Swarovski, Coach, Shanghai Tang, Jim Thompson, Tod's, Mulberry, Kenzo, Escada, Emilio Pucci, Canali, Bvlgari, Paul Smith. Jadi kalau Anda menyukai barang-barang branded, pastikan diri Anda mengunjungi Siam Paragon.

--------------------------------------------------------------------

Madame Tussaud Bangkok
Madame Tussaud Bangkok berada didalam Siam Center, dengan harga masuk sekitar 800baht (200rb-an), namun saat saya pergi, saya mendapat diskon sehingga harga tiketnya 600baht saja. Hoho. Isinya sama seperti Madame Tussaud lainnya, bedanya disini ada beberapa tokoh terkenal Thailand seperti raja Thailand, aktor film laga thailand Tony Jaa, dan lainnya.

--------------------------------------------------------------------

Grand Palace
Grand Palace adalah kompleks kerajaan Thailand di daerah Thonburi. Untuk bisa mencapai Grand Palace kalau Anda naik BTS, Anda berhenti di pemberhentian Saphan Taksin, lalu keluar lewat Exit 1 dan nantinya river stationnya ada tepat di pintu keluar exit. Lalu Anda bisa melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi air berhenti di N9 seharga 15-30 baht. Grand Palace sangat besar dan mewah. Biaya masuknya adalah 400 baht, dan Anda harus berpakaian sopan disini. Anda juga bisa meminjam kain untuk menutupi aurat dengan deposit 200baht/orang. Banyak bangunan eksotis di dalam Grand Palace dengan menara-menara tinggi. Tidak lupa banyak orang beragama Buddha yang juga ikut bersembayang disini.

--------------------------------------------------------------------



Wat Pho (Sleeping Buddha)
Berada tidak jauh dari Grand Palace adalah salah satu tempat wisata yang perlu Anda kunjungi dengan biaya masuk 50baht saja. Isinya ada 2.

Yang pertama adalah patung besar Buddha yang sedang tidur dengan berlapiskan emas yang sangat besar. Tingginya 50 kaki, dan panjangnya 145 kaki. Kalau Anda melihat di bagian kaki Buddha tidur ini, ada 108 panel yang menampilkan simbol keberuntungan dimana Buddha dapat diidentifikasikan seperti bunga, penari, gajah putih, harimau dan aksesoris. Anda juga bisa menukar uang Anda untuk mendapatkan koin yang bisa dijatuhkan kedalam 108 mangkuk koin yang dipercaya dapat membawa keberuntungan.

Yang kedua adalah kompleks kuil berisi patung-patung buddha, bangunan-bangunan kuil yang cukup besar. Mungkin kalau Anda perhatikan, ada beberapa patung prajurit Cina yang berada di beberapa pojok kuil, saya sempat mendengar bahwa patung-patung itu adalah hadiah dari kerajaan Cina sehingga akhirnya patung-patung itu ditempatkan di beberapa kuil besar di Bangkok sebagai ucapan terimakasih. Saat saya datang ke Wat Pho ini, sedang terjadi proses perbaikan dan perawatan pada patung Buddha Tidur ini, Anda juga bisa memberikan sumbangan untuk membantu perawatan patung ini. Oh ya, jangan lupa mampir ke tempat suvenir disini, karena dijual banyak barang yang bagus-bagus. Saking bagusnya, sampai topeng Bali pun dijual disini. (??)

--------------------------------------------------------------------


Suan Lum Night Market
Ini adalah tempat yang membuat telapak kaki saya sakit setengah mati. Kenapa? karena jaraknya jauh dan susah sekali mencari tempat ini. Awalnya memang saya dengar Suan Lum Night Market sudah tutup dan berada di daerah Sukhumvit. Namun, berita barunya adalah Suan Lum Night Market dipindahkan ke daerah Sukhumvit juga.

Saya dan teman-teman berjuang keras berjalan kaki hampir 9 km, bertanya sana-sini, mengikuti GPS dan akhirnya (untungnya) petugas stasiun BTS memberitahukan kami bahwa benar Suan Lum Market sudah dipindahkan. Kami harus turun di stasiun Poonawidhi dan kemudian berjalan kaki lagi sekitar 15 menit. Akhirnya ... Kami menemukan Suan Lum Night Market yang isinya? Mengecewakan sekali.

Saya kira Suan Lum Night Market itu seperti pasar tumpah, dimana banyak sekali orang yang berjubelan untuk berjualan, nyatanya tempatnya sangat sepi, dengan hanya beberapa kios yang buka. Barang yang dijual pun tidaklah terlalu menarik. Satu-satunya yang saya dapat dari Suan Lum adalah nyeri yang amat sangat di telapak kaki saya, migren di kepala dan juga pegal di satu badan saya. Huff.

--------------------------------------------------------------------


Mansion7
Mansion7 adalah Mal yang bernuansa horor. Anda bisa pergi ke mal ini dengan berhenti di stasiun BTS Huai Kwang (atau cari Chatuchak Park) dan kemudian berjalan kaki sedikit. Saya sarankan Anda mengunjungi mal ini saat malam hari, karena lampu-lampu yang menyala di dalam mal akan membuat lebih bagus. Sebenarnya bisa dibilang Mansion7 bukanlah mal, melainkan hanya seperti shopping center 1 lantai dengan beberapa restoran bernuansa horor, permainan-permainan.

Yang patut dicoba adalah permainan rumah hantu yang bernama Dark Mansion yang ada didalam mal ini.

harganya 180baht/orang untuk rumah hantu 1 atau beli tiket terusan seharga 320 baht jadi Anda bisa main di Dark Mansion 1 dan 2. C
ukup menakutkan loh. Jadi, kita menelusuri rumah hantunya dibagi 4 orang per kelompok dan memegang tali yang diberikan oleh si pemandu diawal cerita. Kalau ada orang yang mau menyerah, cukup berhenti dan mengangkat tangannya dan tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Kalau rumah hantu yang pertama kurang menakutkan, Anda bisa mencoba rumah hantu kedua yang lebih panjang dan lebih mendebarkan. Saya sendiri cukup mengikuti rumah hantu pertama, daripada nanti saya terkena serangan jantung.



--------------------------------------------------------------------




Calypso Cabaret
Cabaret Calypso adalah pementasan kabaret oleh ladyboy-ladyboy thailand yang cukup terkenal di bangkok. Lokasinya berada tepat di basement Asia Hotel (alamat : 296 Phayathai Rd, Bangkok 10400) Dengan biaya masuk 1200baht/orang sudah termasuk welcome drink. Pementasannya ada dua kali, jam 8.15 dan 9.45. Rundown acara kabaretnya seperti dibawah:


THE OPENING
We open with Thailand ' s most extravagant legs ! And on top : Feathers! Of course !

THE CHINESE BALLAD
The story of a wounded love. But she , the bride,stands up against all conventions. She fights to get back her freedom. No happy end , but revelation!





THE OSTRICH PARADE
Ancient art relieve tension, soothes stressed muscles, increase flexibility and re-energises the body.

STARS OF CALYPSO
A storm of steps and beats!
6 of the cutest ... A Go Gos!
3 of sexiest ... MARILYN MONROEs !
3 of the stormiest ... MICHAEL JACKSONs !
3 of the sassiest ... TINA TURNERs!
15 of the best and a highlight of this show !
HAWAI
They swing and swirl and smile!
Young and beautiful!
Lovely girls and lovely boys!
You 'll love them
GEISHA
You might not understand Japanese ,
but quickly you 'll understand , why our Japanese audience is cracking up , when this geisha hits the ceiling of comical expertise. Top of the class!

FANTASY OF THAILAND
The beauty of classical Thai dance and our feeling for modern rhythm and movement. These two powers meet. To stunn and surprise you, we gave it that typical CALYPSO twist. Exciting and touching.
I AM WHO I AM
CALYPSO adopts this statement vigorously and shows who we are : Beautiful people!
ARIRANG
Wherever you see a show in Asia, this standard is a must and a most beautiful one ! 9 lovely girls in perfect unison. This Korean love song will stay with your memory.

ALL THAT JAZZ
16 young and handsome and beautiful stunning gals and guys perform this superhit. Sophisticated , ironical , fast and daring!

GYPSIES
The pride of CALYPSO. Bodies and souls inseparable by love and jealousy. Hearts on fire . Conventions thrown overboard. 8 women , 6 men ,
5 guitars , 2 knives and that breathtaking rhythm telling the story you won't forget.

LIKE THE FLOW OF THE RIVER
This is our reverence for MISORA HIBARI , Japan 's most beloved singer and her wonderful song ! Spiritual lyrics and a truly touching melody encouraged our interpretation. Serene and beautiful.

I WHO HAVE NOTHING
The cutting edge standard! Executed true to style , sharp and charming , indeed!

FINALE
Every one on stage ! Gals and guys ! Beautiful and handsome! Charming and loveable personalities !That is CALYPSO!

Waktu pementasannya kurang lebih 1 jam, dan setelah acara selesai kita diperbolehkan untuk berfoto bersama dengan para ladyboy. Apabila Anda di Pattaya, Anda diharuskan memberikan tips mulai 20-100baht setiap kali Anda berfoto dengan para ladyboy, namun di Calypso Cabaret di Bangkok ini, tidak ada keharusan untuk Anda memberikan tips.

--------------------------------------------------------------------




Platinum Fashion Mal
Bisa dibilang ini adalah mangga duanya Bangkok. Karena lokasi, suasana, barang yang dijual sama persis seperti mangga dua, bedanya Platinum Fashion Mal ini tidak seramai mangga dua, jadi masih lebih enak untuk jalan. Mal ini terdiri dari 7 lantai yang hampir semuanya menjual barang pernak-pernik wanita mulai dari pakaian, aksesoris, sepatu dan lainnya. Cewek, dijamin betah disini. Harganya juga murah loh. Saatnya belanja!!

--------------------------------------------------------------------








Museum Forensik














Sebenarnya saya dan teman-teman bisa kesini pun karena sudah kehabisan tempat kunjungan di Bangkok pada hari terakhir + uang sudah menipis. Jadilah kami mencari tempat ini. Museum ini berada didalam rumah sakit Siriraj Hospital. Anda bisa mengunjungi museum ini dengan mengambil BTS : Saphan taksin, lalu naik feri ke N9. Dari N9 (Taa Chang Pier), Anda pilih perahu yang bisa menyeberang ke bagian seberang sungai Chao Phraya seharga 3 baht. Setelah sampai di seberang, Rumah sakit Siriraj berada tidak jauh dari dermaga itu. Ikuti petunjuk arah ke Gedung Adulyadej. Harga masuk ke museum ini adalah 40 baht.

Sesuai dengan nama museumnya, isi dari museum ini tentu saja etalase isi tubuh manusia. Mulai dari bagaimana bentuk tengkorak yang menderita luka bakar, tengkorak yang sehabis terkena tabrakan, mumi pemerkosa yang diawetkan, bayi-bayi yang mengalami penyakit seperti kaki mermaid, bayi bermata satu, jantung yang menghitam karena rokok, bagian dalam payudara wanita yang terkena kanker payudara dan lainnya. Jadi, untuk mereka yang merasa tidak kuat melihat isi dalam tubuh kita sendiri, saya sarankan jangan datang ke museum ini.

Mungkin ini hebatnya pelajaran disana apabila di bandingkan dengan di Jakarta. Kalau di Jakarta, kita hanya membedah katak. Tapi disana, mereka bahkan memiliki museum sendiri. Kenapa saya katakan hebat, karena yang datang kesana rata-rata memang pelajar, anak smp, peneliti dan juga turis asing.

--------------------------------------------------------------------















Four Faces Buddha
Lokasi dari kuil Buddha empat wajah ini ada depan Grand Hyatt Erawan Hotel. Tepat di perempatan Ratchaprasong dan perempatan Ratchadamri Road di distrik Pathum Wan. Anda bisa menggunakan taksi untuk menghemat waktu atau cukup berhenti di BTS: Chit Lom. Kuil kecil ini dikeliling oleh pusat perbelanjaan Gaysorn, CentralWorld dan Amarin Plaza.

--------------------------------------------------------------------

Masih banyak tempat lain yang belum saya kunjungi, seperti floating market, Chatuchak, MBK, dll. Kepergian saya berikutnya ke Bangkok, tempat-tempat tersebut akan menjadi tujuan saya. Oh ya, untuk Chatuchak, berikut adalah infonya :
Jam buka Chatuchak adalah 6am-6pm.
Wednesday-Thursday : flower only
Friday : Wholesale Day
Saturday - Sunday : Whole Market open.

7. Masyarakat.
Orang-orang di Thailand cukup bisa dibilang adalah campuran, saya menemukan banyak sekali ras di Bangkok, mulai dari jepang, korea, australia, italia, arab, india, Indonesia dan thailand tentunya. Dan ya, orang thailand jarang sekali yang bisa berbahasa inggris. Ketika Anda menanyakan sebuah tempat pun, seperti shukumvit, Anda harus menyebut dengan logat Thailand yang benar karena sepertinya penekanan logat sangat mempengaruhi.

Saya juga menemukan bahwa sama seperti negara lain yang memiliki MRT, banyak sekali anak muda di Bangkok yang maniak gadget (iphone khususnya) untuk mengisi waktu luang mereka selama naik MRT, anak mudanya modis-modis juga loh, saya melihat cukup banyak anak sekolahnya yang memakai rok pendek, mengecat rambutnya dan terkadang mereka tampil nyeleneh; dalam artian yang wanita berdandan seperti laki-laki dan laki-laki berdandan seperti wanita. Contohnya, saat saya di BTS, teman saya duduk di sebelah pria yang sama persis seperti Oscar Lawalata, bedanya Oscar Lawalata KW itu memiliki payudara.

Orang-orang di Bangkok, menurut saya cenderung mau diatur dan tahu diri, karena saya tidak melihat ada sampah yang berserakan di stasiun BTS, orang-orangnya pun tidak separah orang-orang Indonesia yang sebagian besar tidak mau diatur. Saya juga menemukan banyak sekali orang-orang thailand yang ramah-ramah meskipun kami berbeda bahasa. Setidaknya mereka mencoba membantu kami saat kami menanyakan arah kepada mereka.

Saya sering mendengar bahwa wanita-wanita di Bangkok jelek-jelek, nampaknya tidak juga. Karena saya melihat cukup banyak wanita-wanita cantik berseliweran di Bangkok. Baik di BTS, atau di jalan. Pijat refleksi disana juga cukup berbeda dengan disini. Mereka menggunakan sumpit untuk memijat kaki kita juga. Harga pijet refleksinya berkisar antara 160-250baht/jam.

8. Cuaca.
Cuaca disana saat saya pergi sama teriknya seperti di Indonesia. (saya sempat dehidrasi saat berkunjung ke Grand Palace karena begitu teriknya matahari), tidak ada perbedaan waktu juga antara Bangkok dengan Jakarta.

9. Esek-esek di Bangkok.
Anda pernah mendengar kata Patpong di Thailand? Kalau Anda pernah mendengar atau mungkin menyebut kata Patpong ini kepada supir taksi disana, jangan heran kalau mereka tersenyum mesum kepada Anda. Karena Patpong bisa dikatakan red-light-district di Bangkok. Dimana lokasinya? Lokasinya ada disepanjang jalan Silom Road dengan Surawong Road. Anda bisa mengambil BTS: Sala Daeng (line hijau ) dan BTS Si Lom (line biru). Patpong sendiri terbagi atas beberapa bagian.

Patpong 1 adalah jalan seperti pasar baru dimana di bagian kanan dan kiri jalan berdesakan bar-bar yang menanti Anda untuk masuk. Patpong 2 juga sebenarnya kurang lebih sama. Patpong 3 berisi bar-bar untuk gay. Rata-rata penari di Patpong ini adalah mereka yang datang dari keluarga miskin, jadi tidak heran sebagian besar dari mereka tidak terlalu cantik atau seksi. Sedangkan patpong 4 yang berada di dekat daerah Soi Thaniya berisi hostes yang biasanya sudah dibooking oleh orang-orang Jepang.

Kebanyakan isi daerah Patpong ini adalah bar go-go yang menampilkan penari-penari topless diatas panggung. Biasanya para penari ini melayani jasa prostitusi juga dengan biaya yang bisa dinego secara terpisah. Ada juga pelayanan prostitusi yang berkedok pijat di distrik ini, bahkan ada bar yang menawarkan one stop oral sex yang dilakukan di bagian belakang meja bar/kamar mandi/gang gelap yang biasa disebut dengan blowjob bars dengan harga bervariasi.

Tidak hanya blowjob bars, beberapa bar juga menampilkan sex show, dimana si wanita melalukan hubungan intim dengan si pria dengan berbagai macam pose. Si wanita juga menampilkan pertunjukan memasukkan bola tenis, membuka tutup botol dengan Ms.V -nya. Untuk Anda yang berniat "nakal" dengan melakukan jasa sex disini, berhati-hatilah karena ada mucikari-mucikari nakal yang akan memeras uang Anda dengan cara saat Anda melakukan hubungan sex dengan anak buahnya, mereka secara diam-diam merekam adegan sex Anda dan kalau Anda tidak ingin video Anda tersebar luas seperti Luna Maya-Ariel, Anda harus membayar mahal tebusan video Anda. Bagaimana kalau Anda tidak bisa membayar? Siap-siap Anda babak belur. Anda penyuka sesama jenis? Tenang. Bar-bar disini juga menawarkan pasangan sejenis yang siap yang melayani Anda. Ladyboy atau biasa disebut Kathoeys.

Tidak hanya di daerah Patpong, sebenarnya kalau Anda perhatikan, Anda dapat dengan mudah menemukan wanita-wanita atau ladyboy yang menjajakan diri mereka di Bangkok selepas jam 10 malam. Harga yang mereka tawarkan mulai dari 500 baht keatas untuk servis yang berbeda-beda. Saya juga perhatikan kebanyakan pria bule yang travel sendiri pasti ditemani oleh wanita lokal. Saya sempat bertanya kepada salah seorang pria bule yang berasal dari Australia, berapa mereka membayar wanita lokal tersebut untuk menemani mereka. Tebak berapa? .... harganya 300 dollar untuk 1 minggu dan ya, wanita lokal itu pun juga melayani kebutuhan seks si pria bule itu.

10. Bahasa.
Saya ingin mengajari Anda sedikit bahasa thai, siapa tahu membantu Anda ketika Anda berkunjung ke Thailand. Apabila Anda pria, gunakan akhiran -khrap /kap, Apabila Anda wanita, gunakan akhiran -Kha. Anda akan dianggap tidak sopan apabila tidak menggunakan akhiran ini. Mudah-mudahan membantu Anda.

Good Morning - Sa Wad Dee Ton Chow Kap/Kha
Hallo - Sa Wad Dee Kap/Kha
Can you speak english - Khun pod pasa nag krid dai mai Kap/kha
How much is this? - Nee thao ray?
Where is the toilet? - Hong sum yu thi nai
Excuse me - Khaaw tho / khaaw a noo yat
Can I take your picture? - Kho Thai rup khun dai mai Kap/kha
Can you take our picture, please? - Chuay thaai rrup hai naawy Kap/kha
Whats your email address - ee mean khaawng khan kheey a rai Kap/kha
Can you write it down, please? - chuay khlian hai dai mai Kap/kha
May I have the Bills, Please? - gep ngern Kap/kha
Thankyou - Khaawp khoon Kap/kha

11. Bawa berapa duit ya ke thai?
Saya hanya membawa 2 juta saat saya bepergian ke Bangkok, dan sebenarnya uang 2 juta cukup-cukup saja kalau Anda tidak maniak berbelanja. Seperti yang saya tulis, uang saya kebanyakan habis untuk transportasi. Bersama hotel dan tiket pesawat, total saya menghabiskan uang sekitar 3.5 juta. Cukup murah untuk bisa liburan bersama teman-teman atau kekasih, atau keluarga dengan nuansa yang tidak berbeda jauh dengan Jakarta namun atmosfir yang lebih menyenangkan. Saya sendiri tertarik untuk mengunjungi Bangkok lagi ke depannya. Bagaimana dengan Anda, tertarik mengunjungi Bangkok?

12. Dibuang sayang (Cerita-cerita behind the travel)
  • Saat mau pulang ke Jakarta, saya menyisakan beberapa ratus baht untuk beli oleh-oleh di duty free di bandara Suvarnabhumi, namun apa yang terjadi? Begitu saya selesai proses pengecekan imigrasi, baru pengen belanja, eh udah ada panggilan pesawat mau take-off. LAST CALL pulak! haiyoo.. langsung saya secepat kilat lari dari ujung ke ujung mencari gate F6 sambil ngedorong koper seberat 17kg + handcarry 6kg pake trolli. Pake acara nyasar pulak. Lucunya, ada orang bule juga yang ternyata ikutan lari juga. (Samaan nih kita, mister). Nyampe di konter penukaran tiketnya, jantung serasa dingin beku karena nafas habis. Itu saja untung taksinya ngebut, kalau taksinya nggak ngebut seperti di film fast and furious, saya yakin kami semua sudah ketinggalan pesawat.
  • Saya bertemu dengan cewek yang super duper imut, tinggi saat pergi dari Bandar Soetta, Jakarta. Eh, pas pulang ketemu lagi sama si dia. Sayang, saya tidak memiliki kesempatan kenalan di bandara. Tak apalah, toh saya setidaknya tahu dia orang Indonesia. Jadi, sapa tahu saya dan dia bisa bertemu lagi. Amin.
  • Banjir di Bangkok bisa dikatakan surut, meskipun saat saya pergi kesana, ada tumpukan-tumpukan karung pasir yang digunakan untuk menahan air. Hanya saja di daerah Chao Phraya, genangan air masih tinggi dan begitu saya turun ke dermaganya, beberapa dermaga masih terendam banjir. Namun, hebatnya, penanggulangan disana tergolong cepat karena saya melihat di dermaga yang masih terendam banjir, ada sekitar puluhan pria yang mengenakan pakaian berwarna biru tua bertuliskan "Royal Thai Family" bergotong royong membuat jalan, membersihkan air banjir, mengangkat karung pasir agar para turis atau penduduk lokal bisa lebih nyaman saat melintas di dermaga. Dua jempol untuk mereka.
  • Kalau Anda membutuhkan peta BTS di Bangkok. Anda bisa mendownloadnya di sini.