Showing posts with label Daily Life. Show all posts
Showing posts with label Daily Life. Show all posts

Thursday, June 13, 2013

Berikan saya kembali hari-hari itu ...

"I could really use a wish right now ..."~ B.O.B


Sebutlah namanya @Costa, seorang ilustrator yang kurang ternama namun cukup handal di bidangnya. (setidaknya begitu di mata saya) dia baru saja menyelesaikan pameran galleri tunggalnya. Dia menyiapkan sekitar 24 karya ilustrasi terbaiknya. Ketika saya bertanya berapa besar uang yang dia persiapkan untuk pamerannya, dia hanya tertawa. Bukan karena dia merahasiakannya tetapi karena dia mengejek cara pikir saya yang berorientasi kepada uang.

Menurutnya tidak semua pameran harus mengeluarkan uang. Sebutlah @Costa nyeleneh tetapi menurutnya  passion yang dia lakukan secara jujur terhadap dirinya sendiri akan mendatangkan uang secara otomatis, tidak peduli berapa besarannya. Dia malah balik bertanya kenapa saya menanyakan berapa jumlah uang yang dikeluarkannya? Saya menjawab setahu saya membuat sebuah galeri pameran biasanya cukup mahal. Dia terdiam sejenak dan menjawab dia tidak mengeluarkan sepeser uang pun karena pamerannya dilakukan di garasi rumah kakaknya. Dia hanya mempromosikan jadwal pameran itu lewat sosial media dan berhasil menjual beberapa hasil ilustrasinya.

Uang yang diterimanya mungkin tidak besar tetapi apresiasi orang-orang akan hasil karyanya yang memberikan  kenikmatan yang luar biasa sehingga harga tidak dapat diukur dan membuat dia terus berkarya. Mungkin saya pun sudah melupakan hal itu. Saya jadi tersentak dan mulai ingat kembali rasanya bagaimana apresiasi orang lain benar-benar dapat membuat kita ingin membuat karya-karya berikutnya. Apabila Anda berpikir hanya orang-orang seniman yang saya maksud, Anda salah.

Apabila Anda seorang ibu rumah tangga, tentu Anda akan senang saat suami Anda memuji masakan Anda. Anda akan berusaha menjadi lebih baik.
Apabila Anda seorang ayah, tentu Anda akan sangat senang saat anak Anda mengatakan betapa dia bangga memiliki seorang ayah seperti Anda. Anda akan berusaha menjadi lebih baik.
Apabila Anda seorang karyawan biasa, tentu Anda akan sangat senang saat atasan atau bawahan Anda merasa Anda adalah seseorang yang dapat diandalkan. Anda akan berusaha menjadi lebih baik.

Jujur, saya ingin seseorang membawa saya kembali ke masa-masa dimana saya belum bekerja, sebelum saya mendapatkan penghasilan. Terkadang rasanya uang memberikan lebih banyak masalah ketimbang solusi. Saat ini, saya lebih disibukkan oleh kegiatan monoton yang tujuannya hanya satu : mengisi pundi-pundi rekening bank saya. Mungkin Anda pun begitu. Kita semua berubah menjadi para maniak uang yang pura-pura tidak mendengar teriakan dan tangisan jiwa kita.

Saya tidak lagi bermain drum karena saya tidak memiliki drum dan untuk apa bermain drum karena toh, saya tidak akan menjadi musisi drum juga.
Saya tidak lagi menuliskan puisi-puisi karena siapa yang mau membayar saya untuk puisi-puisi tidak penting seperti itu? yang saya tulis adalah artikel-artikel berdasarkan data dengan sejumlah bayaran.
Mencobai bidang pekerjaan lain? Apakah penghasilannya sepadan dengan apa yang saya dapatkan sekarang? Bagaimana kalau penghasilannya tidak seperti yang sekarang? Patutkah di coba?

Mungkin Anda pun merasa tersentil saat membaca blog ini meski Anda tahu hal itu yang terjadi. Saya ingin sekali mengalami lagi masa-masa gila semasa saat saya masih kuliah tetapi dalam waktu sekarang, dimana saya telah bekerja. Bisakah hal tersebut terwujud? Saya rasa masih. Karena saya tahu banyak orang diluar sana yang masih bisa bekerja dan bahkan terkenal karena mengikuti passionnya masing-masing. 

Ingin saya mengikuti teriakan batin saya untuk mengikuti hal-hal yang saya yakin Tuhan telah persiapkan untuk saya. Saya yakin bahwa ada hal-hal yang lebih besar untuk Anda dan saya lakukan ketimbang hal-hal yang biasa-biasa saja seperti sekarang. Ketika saya menceritakan pergumulan saya kepada @Costa, dia hanya tertawa, mengejek ketakutan saya dan memberitahu saya hal ini :

"Tidak mungkin Tuhan tidak membukakan jalan terhadap passion yang kita punya. Dia yang menaruh passion itu sendiri ke dalam kita. Pertanyaannya, Anda percaya passion Anda bisa menghidupi Anda, atau tidak?"

Pertanyaan yang sama juga berlaku untuk Anda : Percayakah Anda? 

NB : Harapan saya saat hanya satu, tolong seseorang kembalikan saya ke hari-hari gila saya dimana saya tidak peduli dengan jumlah uang di rekening bank saya. Kembalikan masa-masa gila saya dan seseorang tolong buang masa-masa monoton ini. #ngarep

Sunday, April 21, 2013

Ambil Saja Hati Saya

"If you love someone who seems impossible to save, take heart. What is impossible with man is possible with God."~ Luke 18:27



Kejadian ini barusan saya alami saat saya mau pulang menuju arah jembatan Tomang. Hari sudah malam dan waktu menunjukkan pukul sebelas-an malam. Ketika saya melintas di jembatan Tomang, saya melihat seorang ibu berkerudung putih duduk di trotoar pejalan kaki dengan kaki direntangkan ke jalanan. Sebuah tas kecil berwarna hitam juga berada di sampingnya. Saya sempat menoleh dan memperhatikan si ibu karena pada saat itu memang tidak ada kendaraan di belakang mobil saya, jadi saya sempat memperhatikannya selama beberapa detik.

Dalam pemikiran saya, apa yang terjadi dengan si ibu? Apakah dia kecelakaan? Apakah dia dijambreat atau kejadian-kejadian tidak mengenakkan lainnya. Masih ada sekitar 1 kilometer sebelum saya masuk ke pintu tol, dan jujur, hati saya tidak tenang sama sekali. Ada sebuah suara yang menyuruh saya untuk setidaknya bertanya apa yang terjadi dengan si ibu. Akhirnya saya memutuskan untuk berputar balik dan menanyakan apa yang terjadi.

Saya membuka jendela mobil saya di sebelah kiri dan bertanya kenapa si ibu duduk disana. Dia menjawab dia kabur dari panti sosial karena tidak betah, katanya banyak orang stress di sana, dan dia mau memutuskan pulang ke Lampung namun dia tidak tahu kemana arahnya. Dia juga bercerita dia meminta tolong kepada polisi namun polisi malah mengambil uangnya dan menaruhnya di trotoar situ. (Mudah-mudahan saya tidak salah dengar tentang cerita polisi ini karena cukup banyak suara kendaraan yang melintas).

Akhirnya setengah berteriak saya bertanya apa rencana si ibu selanjutnya. Namun si ibu tidak menjawab sama sekali. Saya berteriak memanggil "Bu." beberapa kali namun dia tidak menghiraukan saya. Tampaknya dia tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Saya sendiri harus menjalankan kendaraan saya karena ternyata kendaraan saya menghalangi jalur. Sepanjang perjalanan ke pintu tol saya berpikir harus berbuat apa, namun saya tidak menemukan jawabannya dan saya memutuskan untuk pulang.

Lucunya, selama perjalanan di tol saya terus mengingat si ibu. Apalagi gerimis kecil sudah mulai turun. Jujur, saya ingat akan oma saya. Beruntung oma saya tidak harus seperti itu. 
Saya benar-benar merasa sangat membenci diri saya sendiri. 
Saya membenci dunia ini. 
Saya membenci sistem dan peraturan yang berlaku. 
Saya membenci manusia-manusia lain yang tidak bisa berbuat apa-apa. 
Rasanya diri saya sungguh useless.
Saya akhirnya menceritakan hal ini kepada ketua komsel saya yang kebetulan sedang mem-broadcast berita kelahiran salah satu anggota komsel. Saya menceritakan semua lewat BBM (tenang, saya berhenti di jalur darurat untuk mengetik cerita itu #DontNgetikWhilenNyetirYa). 

Dia mengatakan mungkin ada pelajaran yang bisa saya dapatkan dari kejadian ini dan dia mengatakan bahwa saya memiliki hati yang besar karena tidak semua orang peduli dengan orang lain di jalan raya. Bukannya saya tidak menganggap hiburan ketua komsel tersebut, tetapi saya merasa semakin kesal ke Tuhan, karena untuk apa saya memiliki hati yang besar kalau saya tidak bisa melakukan sesuatu. Untuk apa saya memiliki pekerjaan, uang, talenta, pemikiran, kesehatan, waktu, umur, tenaga kalau saya tidak bisa membantu orang lain? Semua terlihat tidak begitu berharga dalam kejadian kali ini. Bensin seharga seratus lima puluh ribu dan makanan seharga dua ratus ribuan yang baru beberapa jam lalu saya makan jadi hambar karena kejadian ini rasanya.

Entah kebetulan atau tidak, amarah saya diredakan oleh lagu Hillsong yang secara random dimainkan oleh iPod saya, judulnya Take Heart. Penggalan liriknya berbunyi seperti ini : "... So take heart. Let His love lead us through the night. Hold on to hope. And take courage again" Anda tahu apakah arti dari Take Heart? Artinya adalah to receive courage or comfort from some fact. (Mendapatkan keberanian / ketenangan karena akibat sebuah kejadian).

Sepanjang saya mendengarkan lagu itu menjelang lagunya habis, Saya hanya berpikir, kalau Tuhan saja menggenggam tangan kita untuk menunjukkan jalan kepada kita, kenapa kita tidak melakukan kita ke sesama? Saya hanya berpikir dan sedikit meminta kepada Tuhan, lebih baik ambil saja hati saya ketimbang saya hanya bisa melihat, memperhatikan namun tidak bisa melakukan apa-apa. Untuk apa saya diberkati kalau saya tidak bisa menjadi berkat juga untuk orang lain?

Friday, April 19, 2013

Carut Marutnya Ujian Nasional Indonesia

Sometimes it takes a natural disaster to reveal a social disaster. ~ Jim Wallis
 
 
Apabila saya mendengar bahwa Ujian Nasional (UN) dilaksanakan, jujur, saya bersyukur masa-masa sekolah saya tidak ada ujian semacam itu. Menurut saya pribadi, UN adalah sesuatu yang sangat tidak pas untuk dijadikan satu-satunya tolak ukur kelulusan siswa. Entah apa yang ada di pemikiran pemerintah ketika mereka mengajukan bahwa UN akan tetap digunakan sebagai faktor kelulusan siswa padahal sudah begitu banyak pihak yang menentang dan hasilnya pun tidak memuaskan karena UN yang dilakukan di 11 provinsi dilakukan oleh amatiran.

Kalau negara lain sibuk membuat robot, negara Indonesia sudah membuat 'robot' secara harafiah karena gaya pendidikan negara kita tidak mengembangkan sisi manusiawi. Entah sampai kapan pemerintah amatiran ini akan terus menganut sistem UN seperti ini. Untuk saya, siswa dianggap tidak lebih dari sebuah produk dan UN adalah tes dimana produk lulus sebagai produk bagus atau produk yang cacat. Karena kinerja lembaga pendidikan diukur dari keberhasilan siswanya pada ujian akhir, mereka lebih serius dan mementingkan mewarnai pendidikan untuk mencapai ukuran keberhasilan yang digunakan UN. Padahal, seperti yang saya tulis diatas, UN hanya mencetak generasi robot. Yaitu generasi yang hanya mampu berpikir sederhana dan mengandalkan kemampuan mengingat saja.

Karena kita mencetak generasi robot, lupakan semua elemen penting yang seharusnya diajarkan di sekolah seperti kemampuan bernalar dan berpikir secara kompleks, rasa ingin tahu, berpikir kritis, bersikap kreatif, kejujuran, sikap adil dan sportif, kemampuan komunikasi. Lupakan semua itu. Yang penting adalah bagaimana mendapatkan nilai agar lulus di UN. Tidakkah pemerintah sadar bahwa sistem ini adalah cikal bakal rusaknya generasi muda di Indonesia? Tidakkah pemerintah sadar bahwa yang mereka cetak hanyalah generasi yang hanya mampu melaksanakan pekerjaan rutin, lemah nalar, minim kreativitas dan kurang komunikatif yang berakhir pada ketidakmampuan karakter generasi tersebut untuk bertumbuh?

Pada tahun 2045, dimana Indonesia akan genap berusia 100 tahun, tantangannya akan semakin besar. Bisa jadi sumber energi minyak sudah habis, lahan pertanian tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan kita yang mengakibatkan ketergantungan pada impor semakin tinggi. Jadi, apakah yang bisa diberikan oleh sistem pendidikkan saat ini untuk mampu menghadapai tantangan di saat 2045 nanti? Apa yang bisa diberikan oleh generasi robot mendatang kalau mereka hanya dicekoki oleh paradigma pembelajaran tahun 1900-an misalnya, padahal daya saing, keadaan, situasi, tantangannya sudah berbeda sekali.

Yang paling penting saat ini adalah gilanya dan maraknya serangan evolusi informasi. Revolusi informasi ini merubah cara pandang kita tentang ruang dan waktu. Revolusi informasi memungkinkan penyebaran informasi secara besar-besaran. Kita saat ini berada pada era Facebook, Twitter, Tumblr, Wikipedia, Google, e-library, e-book, Skype dan lainnya. Bayangkan seperti apa kira-kira era di masa depan 20-30 tahun mendatang? Saat ini saja siswa-siswa kita sudah memiliki smartphone dan tablet, yang akhirnya mengakibatkan sistem pembelajaran pendidikan kita yang hanya sebatas mengingat, tidak lagi relevan. 
 
Saya yakin dalam waktu yang tidak lama lagi, buku akan digantikan oleh tablet. Karena tablet dapat menyajikan informasi yang jauh lebih kaya ketimbang buku teks. Saya ingat saat saya belajar tentang tata surya, mulai dari Matahari hingga planet ke 9, Pluto. Yang saya lakukan hanyalah menghafal dan mengingat. Yang perlu saya lakukan hanyalah mengeluarkan semua yang telah saya ingat saat ujian, namun mengingat tidaklah sama dengan mengerti dan memperhatikan. Dengan tablet, siswa dapat melihat animasi pergerakan planet, melihat posisi planet pada waktu tertentu, mengamati bentuk planet tertentu secara 360 derajat, atau mungkin mempelajari sistem tata surya lainnya. 

Benar, bahwa kita membutuhkan sistem dan kurikulum baru untuk adik-adik kita yang masih bersekolah, tetapi harusnya kurikulum itu mempersiapkan siswa menghadapi tantangan yang lebih berat di masa depan dengan cara menciptakan sistem pembelajaran yang menarik, serta memandang dan memperlakukan siswa dengan keunikan dan minatnya masing-masing. Serta kurikulum tersebut dapat beradaptasi dengan memanfaatkan teknologi saat ini. Tidak mungkin siswa diajarkan sistem komputer MS-DOS kalau sekarang jaman sudah menggunakan Windows 8. Jadi, apa yang sudah dipersiapkan oleh pemerintah untuk bersaing di globalisasi. Mungkin pemerintah lupa bahwa globalisasi artinya adalah hadirnya peluang untuk siswa berkompetisi tidak hanya di bagian domestik, tetapi juga internasional. Tidak heran kalau negara kita adalah negara pencetak TKI, karena buruknya sistem pendidikan kita yang tidak berubah.

Sekali lagi, saya tidak tahu apa yang ada di pemikiran siapa pun pihak amatiran yang menciptakan, menyiapkan dan terus menggunakan UN sebagai patokan kelulusan. Mungkin mereka-mereka ini tidak memiliki anak yang bersekolah sehingga mereka tidak mengerti bahwa sebagai siswa, carut-marut sistem UN ini membuat karakter anak tidak dewasa. Belum lagi sistem ini mengajarkan siswa menjadi tidak rasional karena beberapa hari menjelang UN, seakan dunia akan kiamat. Acara doa digelar besar-besaran, kursus dan les privat melambung naik jam belajarnya sehingga membuat siswa kelelahan berpikir, belum lagi mental yang seakan terus menerus diteror karena ketakutan tidak lulus UN karena siswa dikawal polisi saat ujian, Orang tua pun tidak kalah stressnya karena mereka harus menyetor uang sekolah berikutnya, padahal belum tentu anaknya lulus UN. Dan hebatnya, UN pun bisa diundur karena ke-amatir-an pihak penyelenggara UN.
 
Sekali lagi, saya bersyukur saat saya bersekolah, sistem UN tidak saya rasakan. Namun, ke depannya, apabila saya memiliki anak, saya tidak mau anak saya hanya dicetak sebagai generasi robot oleh pemerintah. Apabila benar begitu faktanya, saya berharap kepada siapa pun pelaku Bom Boston, lebih baik Anda mengebom kediaman siapa pun dalang di balik kebodohan pengadaan UN ini ketimbang mengebom ratusan orang tidak bersalah yang sedang ingin menikmati pertandingan olahraga di Boston.

Wednesday, April 3, 2013

Selamat tinggal, helmku

Menuju parkiran motor bersama rekan kerja saya, saya mendapati keanehan yakni ada helm orang lain yang tergantung di kaca spion motor saya. Beberapa detik kemudian saya menyadari bahwa helm saya hilang #Tidaaaakkkk


Saya memarkirkan motor saya di parkiran apartemen RMG, tempat saya biasanya memarkirkan motor saya di kantor. Memang parkiran disana sangat ramai sampai terkadang motor pun harus berdesak-desakan atau harus diparkir cukup jauh dari tempat loket untuk bisa mendapatkan tempat parkir. Tidak heran kalau helm saya pun hilang meski tidak pernah terpikirkan oleh saya akan ada maling di parkiran ini.#siyal

Yang tersisa dari helm saya hanyalah besi penyangga helm yang masih terkait di cantolannya sesuai dengan gambar yang Anda lihat di atas. Sudah pasti helm saya disilet oleh si pencuri karena besi cantolannya masih tertinggal di bagasi motor saya. Saya tidak mengatakan si pencuri baik hati karena masih menyisakan helm bututnya (atau milik orang lain yang dia curi juga) untuk diberikan kepada saya. Untuk saya, hal tersebut merupakan ejekan yang ditujukan kepada saya. Lebih baik helm saya hilang sekalian tanpa perlu berbaik hati memberikan saya helm yang lebih baik.

Dongkol? Marah? Kesal? Emosi? Sudah pasti. Saya tidak terlalu memikirkan harga helm itu, karena saya bisa membelinya lagi. Yang membuat saya sangat kesal adalah saya harus mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak penting lagi. Benar bahwa uang bisa dicari, tetapi mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak ada di budget keuangan dan tidak penting pulak? Dongkol sekali rasanya. Belum lagi harga helm sekarang ini lumayan mahal, lho. #seratusribukeatas

Karena kesal, saya sempat terpikir untuk ikutan mencuri helm orang lain juga #balasdendam (nggak deehh) ... saya terpikir untuk membuang helm tersebut ke selokan saat perjalanan pulang namun saya mengurungkan niat karena sebagai warga kota yang baik, selokan bisa terganggu, bukan? Akhirnya membawa pulang helm tersebut dan berniat untuk membuangnya ke gerobak sampah esok pagi. Mudah-mudahan helm jelek itu bisa berguna untuk siapa pun yang membutuhkanny dan semoga helm tersebut menemukan keluarga yang sakinah, barokah #halah

Lucunya, saat saya pulang menuju rumah, kejadian ini mengingatkan saya kepada Ayub. Seperti Ayub, saya tidak mampu mengerti kenapa. Seperti Ayub, saya juga bertanya "kenapa ini terjadi kepada saya?" Namun seperti Ayub juga, saya mencoba merelakan helm kesayangan saya meski masih terasa dongkol. Hari ini saya merasakan benar, betapa berat rasanya mendoakan orang yang berlaku jahat kepada kita, benar-benar sesak rasanya berterima kasih atas kejadian buruk yang terjadi ke dalam kehidupan kita. Lidah terasa kelu, mulut terasa kaku dan tulang terasa ngilu. #masukangin? Namun, saya sudah merelakan helm saya. Terima kasih kepada teman-teman yang sudah menyuruh saya mendoakan si pencuri itu (makasih yaa @dewizhang, @Kinky, @Aldy, @Bobby)

Sepertinya memang sudah saatnya saya membeli boks motor untuk tempat penyimpanan di motor saya. Saya hanya berdoa agar helm saya lebih berguna kepada si pencuri itu dan semoga kutu-kutu, ketombe-ketombe, zat-zat adiktif negatif lainnya yang ada di dalam helm saya juga memberkati beliau. Seperti becandaan saya kepada teman saya @aries, lebih baik saya menjaga bibir saya, lebih baik kehilangan helm tetapi bersyukur dan "sedikit" mengutuk. #hohoho #sokbijak #masihdongkol

Tuesday, March 26, 2013

Realita Yang Berbeda

I think what is important is a beautiful life, and you are the creator and designer of that life." ~ Kirstie Alley 


Saya melihat sebuah iklan kemarin siang. Gambarnya seorang pria berjalan melewati sebuah jalanan dengan tembok bata di belakangnya dan ada seekor burung sedang terbang melintas  di atas pria tersebut. Dan bayangan di belakangnya membentuk bayangan pria adalah seorang ksatria yang sedang melawan seekor naga. 

Poster ini adalah sindiran bahwa terkadang kita hidup secara monoton. Namun sebenarnya kita menginginkan perubahan. Kita menginginkan sebuah petualangan seru dimana hidup kita berwarna. Kita ingin bertemu dengan orang-orang baru. Kita ingin kesana, kemari mengunjungi tempat-tempat baru. Kita tidak ingin menjalani hidup yang biasa-biasa saja. Jujur, poster tersebut menohok saya. Ya, saya memiliki banyak mimpi.

Saya ingin memiliki rumah sendiri dengan studio band di dalamnya.
Saya ingin menjadi seorang penulis yang bukunya dibaca banyak orang.
Saya ingin menjadi fotografer dimana hasil foto saya memberikan kepuasan untuk orang lain dan saya.
Saya ingin membuat album lagu bersama teman-teman bermain musik saya.
Saya ingin jalan-jalan menjelajah Indonesia. (gratiskalaubisa)

Masih banyak saya ingin-saya ingin lainnya. Namun kenyataannya? Saya masih saja berada di dunia realita yang sama. Bekerja dari 9-6 melototin monitor atau terkadang ke toilet mencari sang "ide" sembari jongkok #Oops. Petualangan saya hanyalah menghadapi kebosanan yang sama setiap hari. Tidak ada perubahan dan inovasi yang lain. Saya menginginkan ada perubahan. Sebenarnya saya tahu saya memiliki kekuatan dan pilihan dan keputusan untuk bisa melakukan itu. 

Ada beberapa kendala yang saya hadapi kenapa saya tidak mengubah hidup saya. Yang pertama adalah rasa pesimis dan takut gagal yang selalu saja menghantui saya yang sebenarnya kalau dipikir-pikir sebenarnya rasa takut itu tidak beralasan.

Yang kedua adalah rasa malas yang sudah melekat di dalam darah dan daging saya. Rasanya sungguh malas untuk keluar dari dalam zona nyaman saya. 'berkeringat' untuk memulai hal yang baru. Rasa malas untuk bertanggung jawab untuk sesuatu buruk yang mungkin terjadi. Saya jadi ingat ucapan guru SMA saya yang mengatakan bahwa kalau saja ada pil sebesar batu yang bernama Anti-Malas, mungkin saja pil tersebut yang bisa membuat bangsa ini menjadi maju. #KgkMalasGakIndonesiaBanget-toh?

Yang ketiga adalah modal. Untuk bisa menjadikan hidup saya menjadi se-menyenang-kan apa yang saya inginkan sudah pasti memiliki modal. Entah hal tersebut modal uang, koneksi, kreatifitas, sistem dan lainnya dan saya merasa saya tidak memiliki modal-modal diatas. Alasan? Bisa jadi.

Blog thread kali ini setidaknya mengingatkan saya bahwa waktu terus berjalan dan alasan tidak akan membuat saya kemana-kemana. Saya sudah cukup merasa benci kepada diri saya sendiri melihat teman-teman saya menjalani hidup sesuai dengan apa yang mereka inginkan dari dalam kepala mereka. Setidaknya quote "Cowards never start. The weak never finish. Winners never quit" yang dilemparkan oleh teman saya di dinding Facebooknya juga ikut menohok saya. Namun lagi-lagi saya masih bisa mengelak dengan mengatakan "penakut tidak pernah gagal. Wong, dia gak pernah coba" #Haizz

Tuesday, March 19, 2013

Affair In Jakarta Nightlife


"We all become great explorers during our first few days in a new city, or a new love affair."
Mignon McLaughlin 


Saya jadi teringat ketika suatu hari saya menikmati es krim dan kopi hangat di Bakerzin sambil berbincang-bincang dengan beberapa teman-teman saya yang wanita dan masih tergolong maniak dugem walau usia mereka tidak lagi bisa dikatakan muda. Ngalor-ngidul kami entah kenapa jadi menggosipkan salah satu teman mereka yang menjadi salah satu simpanan seorang pengusaha ekspatriat di Jakarta. Jadilah hal yang kami bahas adalah soal perselingkuhan yang dilakukan oleh para pria.

Menurut saya, pria-pria Indonesia beruntung karena walaupun mereka tidak tampan atau pintar, secara garis besar banyak wanita menarik yang bisa mereka dapatkan di sekeliling mereka. Apalagi kalau pria tersebut adalah seorang ekspatriat. Orang-orang ekspatriat ini bisa pergi ke Bali untuk berlibur dengan jangkwa waktu lama dan mendapatkan impian semua pria yakni, gaji besar, tekanan hidup rendah dan wanita-wanita cantik.

Sebaliknya, hidup terasa lebih sulit untuk para istri ekspatriat atau wanita-wanita yang jomblo. Untungnya (atau sialnya?) kebanyakan dari para istri ini tidak tahu apa yang sedang terjadi di belakang mereka. Kebanyakan dari para ekspatriat yang teman-teman saya kenal, bisa dibilang 80-90% dari mereka memiliki hubungan asmara dengan wanita lain atau bersleingkuh dengan wanita Indonesia setidaknya satu kali.

Untuk pria ekspatriat yang masih memegang komitmen pernikahan biasanya mulai berhenti berpesta sedikit demi sedikit, atau benar-benar memutuskan untuk mencintai istrinya seorang. Teman saya yang memiliki teman ekspatriat kewarganegaraan Perancis mengatakan bahwa teman prianya tampan, keren, dan mereka bisa saja berselingkuh di Perancis. Tetapi dia tidak melakukan hal tersebut di Perancis. Padahal dia melakukan hal tersebut di Jakarta. Jadi pertanyaannya, kenapa seorang ekspatriat memiliki kencenderungan untuk berselingkuha dengan wanita lain begitu mereka di Jakarta?  Saya melihat ada 3 alasan untuk itu.

Hal pertama, Di Indonesia, banyak pria ekspatriat dapat mendapatkan wanita yang lebih atraktif ketimbang wanita yang ada di negara asal mereka. Tidak hanya yang lebih cantik, bisa juga wanita tersebut lebih muda (atau terlihat lebih muda). Sebaliknya, wanita-wanita Indonesia ini biasanya tertarik dengan pria asing karena beberapa alasan klise yaitu kemapanan finansial, ketertarikan dengan pria kulit putih (bisa juga untuk alasan memiliki bayi bule), dan tentu saja keinginan untuk bersama dengan pria yang tidak lebih konservatif ketimbang pria Indonesia. Teman saya mengatakan selama orang asing itu cukup tampan atau baik, dia akan populer di mata wanita-wanita Jakarta. Dan untuk pria ekspatriat itu, hal tersebut berarti mereka memiliki kemungkinan untuk berkencan dengan wanita-wanita yang mengagumi mereka. 

Hal kedua, teman-teman saya mengatakan bahwa dari pengalaman mereka melanglang buana dari klub yang satu ke klub yang lain, dunia malam di Jakarta penuh dengan kegembiraan dan menyenangkan. Mungkin ada begitu banyak klub malam di belahan Eropa, tetapi hanya sedikit yang se-terbuka dan memiliki banyak ragam seperti di Jakarta dengan fasilitasnya. Apabila Anda seorang ekspatriat di Jakarta, Anda sangat jarang harus mengantri, Anda akan selalu disambut hangat, Anda juga menjadi pusat perhatian, dan Anda akan selalu bisa memesan meja dan membuka sebotol sampanye. Hal ini yang membuat semua peristiwa dunia malam terasa lebih menyenangkan untuk orang-orang ekspatriat.

Begitu banyaknya orang yang menggemari dunia malam di Jakarta hal tersebut berarti lebih besar kemungkinan untuk bertemu dengan lebih banyak orang baru. Sebagai orang ekspatriat, artinya kemungkinan besar Anda akan berada jauh dari keluarga, atau jauh dari istri atau kalau pun istri Anda ikut, dia hanya ikut untuk beberapa saat. Waktu-waktu kosong ini lah yang berbahaya karena dapat membuat pria lebih banyak berpesta, dan mereka memiliki lebih banyak peluang untuk berselingkuh. Atau mungkin bahasa halusnya, lebih banyak godaan yang datang kepadanya. Untuk pria yang menggemari dunia malam, godaan berselingkuha sangatlah banyak. Mulai dari kecantikan puluhan wanita yang ada di sana, bentuk tubuh para wanita yang aduhai, usia mereka yang masih muda, tawaran hubungan singkat yang terkadang susah (dan sayang) untuk untuk ditolak.

Hal ketiga adalah karakter dari wanita Indonesia itu sendiri. Kebanyakan orang mungkin akan mengatakan wanita-wanita di Indonesia sangatlah beragam. Perilaku mereka tidak semandiri wanita di luar negeri. Wanita Indonesia lebih menyukai pria yang dapat memimpin mereka. Karena cara pikir seperti ini lah, para ekspatriat akan bertemu dengan wanita yang cara pikirnya lebih akurat tentang ide-ide mereka tentang istri yang sempurna dimana mereka memiliki para pria peran lebih besar dan lebih memiliki otoritas atas istrinya. Hal ini bisa membuat mereka jatuh cinta dengan cepat ketimbang dengan istri mereka yang memiliki cara pikir "modern".

3 Hal ini yang membuat saya berpikir kenapa begitu banyak ekspatriat di Jakarta yang melakukan perselingkuhan ketika mereka berada di Jakarta. Mungkin ada lebih banyak lagi alasan untuk dikemukakan, Ya, kembali lagi, benar bahwa bukan urusan saya siapa berselingkuh dengan siapa. Atau klub mana yang paling 'panas' di Jakarta, mengingat saya tidak tertarik untuk masuk ke dunia malam atau menyambangi tempat-tempat dunia malam, (wong ketemu asap rokok saja mau pingsan rasanya) tetapi tampaknya menarik betapa Jakarta benar-benar dapat merubah perilaku, sifat dan tabiat seseorang dan betapa kota besar ini dapat memberikan transformasi yang begitu besar kepada seseorang. 

Thursday, February 7, 2013

Anak-anak Tuhan Gak Boleh Rayain Imlek. Masa? Ciyus Loe??


"A nation's culture resides in the hearts and in the soul of its people." ~ Mahatma Gandhi 


Seperti teman-teman kita, orang Batak yang merayakan adat Ulos, teman-teman kita yang beragama Hindu merayakan Ngaben di Bali, dalam minggu ini, teman-teman kita yang beretnis Tionghoa akan merayakan Imlek. Dari dulu sejak saya mencari Tuhan dan berpindah gereja beberapa kali, saya menemui bahwa ada semacam dogma atau pemikiran bahwa kalau sudah menerima Yesus Kristus, tradisi Imlek adalah haram hukumnya. Benarkah?

Untuk saya pribadi, Imlek adalah perayaan dari sebuah tradisi dan adat istiadat dari suatu suku atau etnis tertentu. Ketika kita hidup dalam sebuah masyarakat kecil atau masyarakat besar, akan ada yang namanya tradisi. Banyak sekali adat istiadat dari suku bangsa yang kita tidak ketahui kalau kita tidak berada di dalamnya dan menjalaninya. Mudik di saat lebaran pun sekarang dikatakan tradisi, bukan? 

Saya kurang mengerti akan seharusnya seperti apa merayakan Imlek itu seperti apa, karena rasanya sedari kecil, saya hanya tahu Imlek adalah makan jeruk ponkam, barongsai, sembayang hio dan dapat angpao (yang sudah tidak lagi saya terima sejak beberapa tahun lalu). Bahkan dalam sembahyang hio, saya pun tidak tahu apa yang harus diucapkan jadi terkadang malah saya berdoa kepada Yesus saja.

Di dalam Galatia 1:14, Rasul Paulis menulis "Dan di dalam agama Yahudi aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku.”(1:14) 

Kisah Rasul 28:17, Paulus mengatakan, “Saudara-saudara, meskipun aku tidak berbuat kesalahan terhadap bangsa kita atau terhadap adat istiadat nenek moyang kita, namun aku ditangkap di Yerusalem dan diserahkan kepada orang-orang Roma.” 

Apakah Paulus meninggalkan adat istiadat nenek moyangnya? Saya rasa tidak. Ilustrasi kasarnnya adalah jika saja Rasul Paulus adalah seorang Tionghoa, bisa jadi dia pun merayakan Imlek.

Tetapi, jika kita membaca Matius 15:3, Tuhan Yesus memberi peringatan kepada orang-orang Farisi dan ahli Taurat, “Mengapa kamu pun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?” Yesus dengan sangat tegas mengecam orang Yahudi yang sangat memelihara adat istiadat nenek moyang tetapi melanggar firman Tuhan. Berarti kita tidak boleh melanggar ketetapan firmanNya karena lebih mementingkan adat istiadat. Menurut saya, yang terpenting adalah bagaimanakah sikap kita terhadap tradisi yang kita jalani. Jikalau di dalam adat istiadat ada hal-hal yang bisa mendorong kita untuk berbuat dosa, jangan lakukan itu.

Di dalam hal adat-istiadat atau tradisi ada banyak hal positif dan juga ada hal negatif. Adat istiadat yang positif misalnya masalah jenjang hormat menghormati. Saya mendengar bahwa dalam tradisi orang Batak, jika marga yang satu mengadakan pesta maka marga yang lain itu akan menyuci piring.

Tetapi ada juga tradisi yang akhirnya memungkingkan seseorang melakukan dosa. Di Kalimantan Barat, setiap hari raya Imlek, anak-anak biasanya mendapat banyak angpao. Karena mereka memegang banyak uang, biasanya mereka mulai belajar merokok dan berjudi. Bisa jadi, awalnya mereka hanya iseng-iseng semata namun akhirnya mereka terjerat dan menjadi penjudi ataupun perokok berat setelahnya. Tapi bagaimana apabila setelah mereka mendapatkan angpao dan setelahnya mereka menggunakan angpao tersebut untuk memberikan bantuan kepada orang lain atau memberikan perpuluhan secara lebih, apakah salah?

Mungkin Anda belum mengetahui akan tradisi yang satu ini, tapi untuk Anda yang pria-pria mungkin akan menyukai tradisi yang satu ini. Sudah menjadi tradisi orang Eskimo bahwa setiap ada tamu yang datang berkunjung ke rumah mereka, maka tuan rumah akan memberikan istrinya sebagai teman tidur tamu mereka dan ketika Anda menolak, Anda akan berlaku tidak sopan terhadap sang tuan rumah. Dosa? Sudah pasti. Tetapi hal ini sudah menjadi budaya dan tradisi dari orang Eskimo.

Jika Anda menerima dan mengakui bahwa Yesus Tuhan sebagai patokan hidup Anda, maka seharusnya fokus hidup Anda adalah bagaimana kita membangun hidup ini supaya sepadanan dengan FirmanNya, baik dalam merayakan tradisi atau tidak. Jangan dibalik urutannya menjadi FirmanNya dipadankan dengan hidup kita. Bukan FirmanNya yang diubah, tetapi hidup kita yang harus diubah. 

Jadi kesimpulan saya, tidak ada salahnya Anda merayakan Imlek, toh, Anda menjaga tradisi dan budaya Anda tetapi ketika Anda mengetahui bahwa ada hal-hal yang negatif yang memungkinkan Anda melakukan dosa di dalam tradisi  Anda, jangan lakukan itu. Hiduplah berdasarkan firmanNya.

PS : Untuk teman-teman saya yang merayakan imlek, saya mengucapkan selamat Imlek yang jatuh pada tanggal 10 Februari ini.  Gong Xi Fa Cai. Ditunggu kiriman jeruk ponkam dan angpaonya.

Friday, January 11, 2013

Lhokseumawe Goverment : No "Ngangkang" Please

"PKS: Larangan perempuan untuk duduk ngangkang bisa jadi kekhasan Aceh" #ngawur.abis  (link disini

 


Baiklah, sepertinya memang sudah menjadi kebiasaan di negara yang besar ini bahwa pemerintah selalu saja mendahulukan hal-hal yang berbau rasis, mayoritas, sensual, korupsi dan lainnya. Dan kebijakan kali ini yang diambil adalah kebijakan dari Wali kota Lhokseumawe, Aceh, Suaidi Yahya, yang sangat tidak masuk akal, yakni perempuan tidak diperbolehkan duduk "ngangkang" saat dibonceng. Otak dan hati siapakah yang kotor?!

Benar bahwa peraturan ini diterapkan di Aceh yang menganut paham Syariah-Islam atau adat istiadat setempat, sekali lagi perlu ditekankan, Otak dan hati siapakah yang kotor?! Dan lagi-lagi, seperti di belahan dunia lainnya, kaum perempuanlah yang dirugikan dengan peraturan-peraturan ngawur seprti ini. Bisa jadi larangan duduk mengangkang bagi wanita yang dibonceng sepeda motor dibuat dengan alasan sopan santun. Namun bagaimana dengan keselamatan jiwa wanita yang bersangkutan yang dibonceng?

Tidakkah pembuat kebijakan ini pernah mengendarai sepeda motor dalam posisi dibonceng? Tidak tahukah pembuat kebijakan ini bahwa sangatlah berbahaya apabila dibonceng tidak dalam kondisi ngangkang? Begitu besar bahaya yang akan terjadi ketika sang pengemudi tidak dapat mengendalikan kendaraannya. Dan akan sangat sulit untuk si pembonceng mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan? Bagaimana dengan perempuan yang sudah berusia lanjut, atau sakit atau hamil? Apakah pembuat kebijakan ini tidak memiliki ibu, saudara, kekasih, istri yang berjenis kelamin wanita? Mungkin kebijakan ini akan dicabut apabila ada salah satu dari mereka yang terkena musibah akibat larangan duduk mengangkang ini.

Sadrkah pembuat kebijakan ini akan data kasus kecelakaan lalu lintas di Indonesia dimana banyak kasus kecelakaan lalu lintas dimana korban meninggal karena membonceng dengan cara tidak mengangkang? Misalnya roknya tersangkut rantai (sepeda motor) atau kemudian kaki si pembonceng terlalu menonjol sehingga tersenggol kendaraan bermotor lain sehingga terjatuh dan meninggal. Bahkan di India pun, klaim asuransi kematian akibat posisi duduk tidak me'ngangkang' pun ditolak karena posisi duduk mereka tidak dalam posisi duduk aman.

Terlepas dari apa agama mayoritas atau adat istiadat disana yang semakin berkembang, Kenapa pemerintah daerah tidak lebih memastikan semua warga menikmati pendidikan berkualitas secara gratis, layanan kesehatan, ketersediaan air bersih, listrik, dan bahan sandang-pangan yang terjangkau? Atau memberdayakan masyarakat, terutama perempuan untuk mengurangi pengangguran dan membasmi koruptor dan membangun Aceh lebih giat lagi pasca tsunami?

Percuma agama mayoritas dipuja begitu tinggi tetapi otak dan pikiran pembuat peraturan dan kebijakan tidak jauh dari mengurusi urusan isi celana dalam wanita saja. Kalau begitu, kenapa tidak sekalian saja dibuat peraturan kalau wanita tidak boleh dibonceng? Atau tidak boleh ada motor yang berseliweran di Aceh. Semua warga harus naik mobil, misalnya. Sungguh ngawur sekali apabila peraturan ini diterapkan dan sungguh memalukan ucapan kader PKS yang mengatakan larangan perempuan ngangkang bisa menjadi kekhasan Aceh.

Saya berharap apabila peraturan ini diterapkan, tolong bapak-bapak yang membuat kebijakan ini juga membuat kebijakan lanjutan dimana seluruh perempuan di Lhokseumawe diharuskan MEMILIH dan MENGGUNAKAN salah satu dari empat gaya non-ngangkang di bawah ketika mereka dibonceng. Setuju, bapak-bapak?


Seperti kalimat saya di blog sebelumnya, negara lain sudah sibuk memikirkan menjajah bulan dan Mars, mengembangkan rudal nuklir dan lainnya, tetapi negara ini masih saja sibuk berkutat dengan hal-hal bodoh. Bisa jadi di masa depan, (karena saking seringnya perempuan dilecehkan oleh kaum pria dengan kebijakan-kebijakan aneh) ketika wanita derajatnya lebih tinggi dari pria, akan ada larangan balasan dimana pria dilarang kencing berdiri dan akhirnya larangan pria kencing berdiri ini menjadi ke-KHAS-an Aceh oleh partai PKW (Partai Keadilan Wanita) #bisajadi

Thursday, December 20, 2012

21.12.2012. Kegelapan datang


Predicting the end of the world is very excruciating. Of all the possibilities and unseen doors that lead us to assume the end. Let the creator decide, not man.


Dear Diary,

Tanggal 21 Desember 2012. 
Hari yang kudengar adalah hari terakhir kami semua, manusia, di muka bumi ini. 
Semua desas-desus yang kudengar seakan meyakinkan bahwa benar dunia akan berakhir hari ini. Kiamat akan datang segera. 
Aku melihat beberapa orang menyiapkan persiapan untuk beberapa bulan ke depan kalau-kalau kiamat datang esok hari.
Aku juga melihat perusahaan-perusahaan besar menyiapkan perlindungan di sebuah bola tahan bencana di depan pelataran perusahaan mereka.
Seorang anak perempuan bertanya kepada ayahnya kenapa semua orang begitu panik namun sang ayah hanya menggenggam erat tangan anak perempuannya itu.

Aku berjalan menyusuri lorong dan mengambil salah satu selebaran yang banyak jatuh di tanah.
Sistem kalender Tzolk'in yang mengukur siklus 260 hari.
Sistem kalender Haab yang mengukur siklus 365 hari.
Sistem kalender Bak'tun yang mengukur siklus 400 tahun.
Semua terangkum dalam 1 kertas yang besar dengan tulisan "kiamat akan datang" besar-besar dibawahnya. 
Benarkah sistem kalender suku bangsa ini? 
Tepatkah ramalannya?
Benarkah hari ini akan berakhir? 
Seberapa cepatkah kiamat datang?

Dari kertas yang terpaku di batang sebuah pohon, aku membaca bahwa tahun 1966, seorang peneliti bernama Michael Coe, menulis buku yang menyebutkan ada petunjuk akan ada kiamat pada hari akhir kalender tersebut. dan gagasan tersebut dikembangkan oleh pengarang New Age di tahun 1970-an dan seperti virus kronis, cerita tersebut menyebar.
Percayakah aku? Tidak. Jangan sekali-kali pernah jiwa dan pikiran ini mempercayainya.
Aku melihat matahari bersinar cerah di angkasa ditemani oleh birunya langit dan kapas-kapas awan.
Betapa indahnya hidup dan dunia ini.

Bahkan Bibi Socoro Poot yang berumur 41 tahun yang tinggal di Holca, desa yang terletak 40 kilometer dari Chichen Itza pun mengatakan dia tidak sedikit pun dia percaya.
"Tak ada yang tahu hari dan jam terjadinya kiamat. Hanya Tuhan yang tahu."
Aku mengeluarkan sobekan kertas yang lusuh, beberapa di antaranya berkerut terkena basahan air hujan. Aku membacanya keras-keras di hamparan orang-orang yang sibuk mengurusi datangnya hari kiamat. Dengan penuh keyakinan aku membacakannya,

Matius 24 : 35-36
"Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu. 
Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri."

Beberapa orang tersenyum dan meneguhkan iman mereka akibat perkataanku.
Seperti Bibi Poot, aku pun meneguhkan imanku akan perkataan Tuhan yang kubaca keras-keras itu.
Namun kebanyakan dari mereka mengacuhkanku dan terus sibuk menyiapkan datangnya hari kiamat.
Aku melihat jam tanganku. Menyadari bahwa hari ini adalah tanggal 20 Desember.
Satu hal yang aku yakin bahwa besok akan terjadi kegelapan kalau aku tidak melakukan suatu hal. 
Kegelapan akan melanda rumah dan keluargaku kalau aku mengabaikan hal tersebut dan aku yakin 98% akan kepastian hal yang satu ini.
Karena jelas hari ini adalah hari terakhir bayar listrik, harus segera bayar tagihan listrik PLN atau besok kegelapan akan datang. 
Oops...

Salam dari blogger yang kurang terkenal ini.
Tre Haushinka

Friday, December 14, 2012

Belajar dari orang Atheis

There's something in every atheist, itching to believe, and something in every believer, itching to doubt.  ~ Mignon McLaughlin


Anda pernah bertemu dengan seseorang yang mengaku dirinya ateis dan berbincang-bincang dengan seseorang yang tidak mempercayai akan adanya Tuhan dan tidak mempercayai agama? 
Sebenarnya saya agak tersenyum-senyum sendiri saat menulis blog thread ini karena mengingatkan saya akan diri saya beberapa tahun lalu. Perlu diketahui bahwa dulu saya tidak mempercayai adanya Tuhan meski saya dibesarkan dalam keluarga yang bisa dibilang cukup liberal dalam segi agama.

Namun untungnya, Tuhan tidak selesai berurusan dengan saya. 
Dia menarik saya terus menerus untuk kembali kepadaNya hingga saya akhirnya menyerah dan kembali kepadaNya. (Dan saya bersyukur karena itu)
Ketika bertemu dengan beberapa orang ateis mengingatkan saya bahwa sebenarnya orang-orang ateis adalah saudara-saudara kita, hanya saja mereka memiliki keyakinan yang berbeda. 
Dan saya belajar sesuatu dari segi iman mereka akan ke-ateis-an mereka.
Saya belajar akan keyakinan mereka yang teguh.

Mereka begitu yakin akan iman mereka bahwa Tuhan tidaklah ada. 
Agama tidak menyelamatkan apa-apa. 
Setiap kata yang keluar dari mulut mereka terasa begitu meyakinkan. 
Anda bisa melihat bahwa iman mereka begitu teguh seakan tidak ada yang dapat mematahkan argumen mereka.
Mereka maju melangkah berdasarkan sejauh akal mereka dan terkadang mereka membuat lompatan besar dalam hidup mereka.

Mungkin Anda merasa kesal atau mengatakan mereka bebal karena mereka begitu bertahan kepada pemikiran ateisme mereka. 
Mungkin selama ini Anda mencoba mempengaruhi mereka agar setidaknya mereka berubah, namun mereka tetap kepada keyakinan mereka.
Pemikiran saya adalah bukankah kita juga seharusnya melakukan hal tersebut kepada iman kita kepada Tuhan? 
Ketika di luar sana begitu banyak godaan dan 'jalan-pintas' yang datang kepada kita, bukankah kita seharusnya memegang teguh iman kita agar tidak ada yang dapat mematahkan kepercayaan kita kepada Tuhan? 

Saya merasa terkadang iman saya terlalu 'lembek' dan 'mudah digoyahkan' ketika masalah datang, (khsuusnya godaan datang lewat pemikiran-pemikiran dan bisikan-bisikan sesat dalam otak dan hati kita.)
Saya dengan mudahnya terombang-ambing dalam kebingungan pilihan hidup akan keputusan-keputusan yang harus saya ambil.
Padahal seharusnya saya yakin seperti layaknya orang ateis di luar sana memegang teguh keyakinan mereka dan terus berjalan.
Bagaimana mungkin, saya sebagai orang yang beragama memiliki lebih banyak keraguan ketimbang mereka yang tidak memiliki agama sama sekali? 
Bagaimana mungkin saya yang memiliki pedoman dan panduan hidup berdasarkan firmanNya, jauh lebih bimbang dan galau saat melangkah ketimbang mereka yang tidak memiliki Tuhan namun bisa melangkah lebih mantap dalam hidup mereka?

Saya sangat setuju dengan kutipan quote di pembuka blog thread ini, bahwa dalam setiap orang ateis, mereka memiliki keinginan untuk mau percaya. Dan bahwa untuk setiap orang percaya, memiliki kelamahan dalam keraguan mereka. Pelajaran yang saya dapat adalah, seharusnya saya lebih tidak mudah dipatahkan karena saya memiliki FirmanNya. Dan tidak hanya firmanNya, saya bahkan memiliki Dia, Yesus Kristus dalam hidup saya. Apa lagi yang kurang di dalam Dia?

Sunday, November 11, 2012

I'm Proud of Them, But Do They Proud of Me?

They never quite leaves their children at home, even when they doesn't take them along.  ~Margaret Culkin Banning


Selepas perjalanan pulang saya dari tol Bekasi ke Jakarta, saya menghabiskan waktu di mobil untuk mengobrol dengan Mama saya. Biasanya memang Saya jarang ngobrol dengan Mama saya di rumah dan memang saya tidak terlalu dekat dengan anggota keluarga saya lainnya.

Namun, saya belajar bahwa keluarga adalah hadiah dari Tuhan dan saya mau belajar untuk dekat dengan anggota keluarga saya.

Dalam perjalanan pulang di tol, sebenarnya lebih banyak Mama saya yang bercerita ketimbang saya yang bercerita sepanjang perjalanan. Saya hanya mengangguk-ngangguk dan mengomentari sedikit-sedikit tentang apa yang Mama saya ceritakan.

Mama saya bercerita tentang mukjizat-mukjizat yang terjadi dalam hidupnya.
Mama saya bercerita tentang orang-orang yang diberkati dan dipakai Tuhan di gerejanya.
Mama saya bercerita tentang adik saya yang disayang oleh seluruh anggota keluarga pacarnya.
Mama saya bercerita tentang pusingnya bekerja untuk membayar cicilan toko.
Mama saya bercerita tentang betapa banyaknya pesaing-pesaing baru yang mulai muncul.
Mama saya bercerita tentang teman-temannya yang anaknya sudah sukses
Mama saya bercerita tentang berapa jumlah hutang yang harus dibayar kepada bank untuk toko.

Saya bangga dengan Mama saya. Benar-benar bangga. 
Bisa dibilang tulang punggung keluarga saya adalah Mama saya sejak dahulu.
Walaupun sudah cukup berumur, namun Mama saya masih diberikan berkat untuk dipercaya Tuhan mengurusi semua pekerjaan toko selama bertahun-tahun dan bisa menghidupi anak-anaknya hingga bisa kuliah dan membuat dapur mengebul hingga detik ini.

Permasalahannya adalah ya, saya bangga dengan Mama saya. Namun apakah Mama saya bangga dengan saya? Karena saat dia menceritakan semua cerita-cerita saat perjalanan pulang, saya merasa begitu marah kepada keadaan karena seakan-akan saya kurang bertindak banyak untuk Mama saya. Saya merasa tidak berguna sama sekali. Rasanya yang saya lakukan selama ini hanyalah membuang-buang waktu saya untuk DIRI SAYA SENDIRI.

Kok bisa-bisanya saya durhaka karena 'membiarkan' Mama saya yang sudah berumur terus menerus bekerja seperti ini. 
Kok bisa-bisanya saya mau terus menerus bekerja dengan gaji yang segitu-segitu saja.
Kok bisa-bisanya saya tidak memantapkan rencana hidup saya lebih matang agar bisa membantu Mama.
Kok bisa-bisanya saya mementingkan diri saya setiap weekend untuk hura-hura ketimbang membantu Mama saya di toko, dan pemikiran-pemikiran lainnya.

Pada hari Ibu, tentu kita semua merayakannya karena kita semua mungkin bangga dengan orang tua kita. Tetapi saya berpikir, seandainya saja ada hari Anak. Akankah orang tua kita bangga kepada kita sebagai anaknya? Pada detik ini, rasanya satu-satunya hal yang saya inginkan hanyalah menyenangkan hati orang tua namun saya tidak tahu apa caranya. Apa jalannya? Ingin rasanya saya kaya mendadak dan memberikan rumah, mobil, dan hal-hal hadiah lainnya kepada orang tua saya dan membiarkan mereka melewati masa tua mereka dengan damai. Kenyataannya, mereka masih harus menanggung saya hingga detik ini dengan terus membanting tulang dan dipusingkan dengan masalah-masalah yang harusnya tidak lagi mereka pikirkan dan saya malu dengan keadaan ini.Sungguh saya berasa sia-sia sebagai anak.

Mungkin hal ini pun menimpa pada Anda. Mungkin Anda bangga dengan orang tua Anda. Namun apakah orang tua Anda bangga kepada Anda? Apakah mereka puas dengan jalan hidup yang Anda tempuh? Atau malah jangan-jangan mereka membanding-bandingkan Anda dengan anak orang lain? Atau malah jangan-jangan Anda tidak pernah terpikir untuk memikirkan kebahagiaan mereka?

Saya juga masih tidak tahu apa yang harus saya lakukan agar keadaan lebih baik ke depannya, namun rasanya memiliki 'moda' pemikiran ini, sudah cukup untuk memulai api semangat dalam diri saya bahwa saya tidak bisa begini-begini saja dalam hidup saya. There's gotta be something more than this. Saya tidak tahu Anda dan situasi keluarga Anda. Namun satu hal yang saya tahu pasti, waktu terus berjalan dan suatu saat mereka akan tiada dan jangan biarkan di saat mereka tiada, Anda memiliki penyesalan karena tidak melakukan ini-itu untuk mereka. Cintailah mereka. Ayo, buat mereka bangga dengan anaknya.

Monday, October 29, 2012

Alasan untuk hidup

Suicide is man's way of telling God, "You can't fire me - I quit." - Bill Maher


Beberapa hari kemarin sekitar pukul tiga pagi saya melihat-lihat kembali tulisan-tulisan saya sejak saya SMP.

Hanya beberapa catatan dan tulisan biasa yang sering saya tulis di buku saya yang memiliki gambar depan seekor induk bebek berwarna kuning yang sedang bermain dengan anak-anaknya.

Di dalam buku tersebut tersimpan catatan nomor telepon teman-teman lama saya. Saya termenung melihat deretan nama tersebut ketika menyadari beberapa teman saya tidak lagi ada di dunia ini karena mereka menyerah dan mengambil keputusan dalam hidup mereka untuk bunuh diri beberapa tahun silam ketika mereka berumur belasan tahun.

Jadi, dalam blog thread kali ini saya berusaha membuat sebuah memoire pendek untuk mengenang mereka yang telah mengambil keputusan untuk melakukan tindakan bunuh diri tersebut. 

Terkadang, nampaknya begitu mudah melepaskan diri dari semua ini ketika kita semua mengakhiri hidup kita sendiri ketika sebuah problema yang begitu besar tidak bisa kita atasi. Sebuah pemikiran yang terkesan sepele namun sangat menyesatkan.

Saya sendiri pun sering berada dalam kondisi seperti itu. Saya merasa buruk. Tidak berarti. Tidaklah penting. Mencoba bunuh diri? Saya pernah. Terpikir untuk melakukan bunuh diri? Cukup sering. Pada saat itu saya tidak dapat menemukan satu pun alasan agar saya bisa melanjutkan hidup saya. Dan mungkin dunia akan menjadi sedikit lebih peduli ketika saya tidak lagi ada. Benarkah? Kenyataannya, tidak. Dunia akan terus berjalan dan berputar terlepas Anda ada atau tidak di dalamnya. 

Saya tidak tahu siapa Anda dan apa kondisi Anda saat ini. 
Tetapi ketika Anda berada dalam posisi dimana saya pernah berada, yaitu posisi dimana seakan-akan orang tidak ada yang peduli atau posisi dimana-mana seakan-akan Tuhan tidak peduli. Saya mohon, temukan alasan untuk Anda tetap hidup karena selalu ada alasan untuk Anda tetap hidup. Kita semua disini untuk sebuah alasan dan tujuan. Dan saya yakin mengakhiri hidup Anda sendiri bukanlah tujuan akhir Anda dan tindakan itu tidak pernah dirancang Tuhan untuk Anda.

Anda PENTING!
Anda INDAH !
Anda DICINTAI !

Mungkin Anda merasa tidak ada sosok manusia yang mencintai Anda. Tetapi Tuhan mencintai Anda. Dia sedang mendemonstrasikan cintaNya kepada Anda. Dengan membiarkan Anda hidup, bernafas, berpikir, merasakan, Dia sedang mendemonstrasikan cintaNya kepada Anda.
Dia ingin Anda kembali kepadanya.

Anda berhak mendapatkan alasan untuk hidup.
Anda perlu mencari alasan untuk tetap hidup.
Ingatlah bahwa bertahan hidup selalu lebih sulit ketimbang mengakhiri hidup.
Bertahan hidup membutuhkan keberanian.
Beranikah Anda menjalani hidup Anda sendiri?


---------------------------

Saya berdoa untuk jiwa-jiwa yang memiliki kecenderungan negatif seperti depresi, stress, kecenderungan untuk mengakhiri hidup sendiri agar mereka dikuatkan dimanapun jiwa-jiw ini berada. Aku meminta agar Roh Kudus menemani mereka, menghibur mereka, mengubah cara pikir mereka dan Yesus Kristus memaafkan kami semua (termasuk jiwaku sendiri) yang pernah berpikir untuk menyerah terhadap hidup. Berikan kami kelemahan untuk mau datang kepadamu ya, Bapa. Berikan kami kekuatan dan keberanian untuk mau menutup mata kami, membuka hati kamu dan menyerahkan semua masalah kami kepadamu. Berikan kami jalan keluar ketika kami merasa semua pintu tertutup. Dan untuk jiwa-jiwa yang sudah mendahului kami, ampuni jiwa mereka. Berikan kami damaiMu.

Tuesday, August 14, 2012

Ketika hidup tidak adil

Sejak beberapa hari terakhir, saya merenungi tentang sebuah kata, yakni kata 'adil'. Mengingat ada beberapa teman saya yang merasa diperlakukan tidak adil, atau mereka yang tidak melakukan hal yang adil kepada orang lain secara sadar.

Saya jadi berpikir kenapa sulit untuk kita melakukan hal-hal yang bersifat adil meski keadilan adalah dambaan, harapan setiap orang dalam berbagai bidang (bukankah olahraga pun harus bersikap adil/fair?)

Sering dari kita merasa diperlakukan tidak adil. Sejak kecil pun kita sering melihat atau diperlakukan tidak adil. Mungkin oleh orang tua, kakak, adik, saudara, teman. Mungkin kita melihat orang tua kita lebih besar kasih sayangnya kepada orang lain dan kita merasa tidak adil. Mungkin kita sudah berusaha sedemikian kerasnya dalam bekerja, tetapi orang lain yang mendapat penghargaan. Mungkin kita sudah berusaha melakukan yang terbaik dalam relationship kita dengan pasangan, namun pasangan tetap saja memperlakukan kita secara buruk dan tidak peduli dengan semua usaha kita.

Apa pun alasan atau contoh yang Anda sampaikan, saya yakin Anda pernah merasa ketidakadilan hinggap di salah satu pojok perjalanan hidup Anda. Saya rasa tidaklah terlalu susah untuk bersikap adil. Kenapa? Kalau Anda hanya mau sekedar bersikap adil, Anda hanya perlu untuk menemukan 'titik tengah' agar kedua belah pihak sama-sama puas. Tetapi ketika Anda perlu untuk memutuskan keputusan yang adil DAN bijaksana ... hmm, ini baru susah karena tidak semua dari kita memiliki kebijaksanaan.

Saya ambil contoh kita memiliki kain selebar 10 meter dan ingin membaginya menjadi dua bagian untuk dua orang. Dikatakan adil jika masing-masing pihak memperoleh kain selebar 5 m. Hanya saja, jika dua orang itu berbeda fisiknya (katakanlah yang satu gemuk sehingga 5 m tadi kurang untuk membuat sebuah baju, sementara yang satunya kurus sehingga kain tadi terbuang percuma) apakah tindakan membagi dua sama besar itu adil? Jelaslah bahwa keputusan yang adil itu tidaklah selalu bijaksana. Adalah hal yang bijaksana ketika kain tadi dibagi menjadi dua bagian dengan 6m untuk si gemuk dan 4 m untuk si kurus. Dengan begitu keduanya bisa memperoleh baju tanpa ada kain yang terbuang percuma. Adil yang mengandung kebijaksanaan tidak melulu tentang 50-50 nilainya. Bisa jadi nilainya 20-80 tetapi mereka merasa puas dengan keputusan keadilan yang diambil.

Sayangnya, kita sering menggabungkan kata adil dan bijaksana. Padahal sesungguhnya hal itu tidak akurat dan tak serasi. Kalau adil, bilang saja adil, artinya sama rasa sama rata. Tetapi, bijaksana belum tentu adil. Bahkan belakangan ini, sesuatu yang digolongkan bijaksana ternyata lebih sering dimaknai negatif. Saya tidak tahu ada berapa juta atau milyar orang yang merasa dirinya tidak diperlakukan secara adil di dunia dan saya yakin sampai ketika saya meninggal nanti pun akan ada orang-orang yang diperlakukan tidak adil dan juga melakukan hal-hal yang tidak adil. Akhir kata ketika teman-teman saya selesai berkeluh kesah tentang ketidakadilan yang mereka dapatkan atau lakukan, saya hanya berpikir bahwa ketika semua orang merasa bahwa hidup mereka tidak adil ... disanalah keadilan ada.

Dan, bukankah adil ketika semua orang diperlakukan secara tidak adil? - tre haushinka

Friday, July 20, 2012

Menjadi Luar Biasa #Wish

Saya teringat dengan obrolan teman saya beberapa hari bahwa kami menemukan, bahwa saya dan dia memiliki satu kesamaan dalam hidup yakni, kami sama-sama ingin menjadi manusia yang lebih baik. Baik dari segi keuangan, karakter, sifat, cara pikir dan lainnya. Sayangnya, terkadang ucapan itu lebih mudah dilakukan ketimbang dilakukan.

Saya juga ingat beberapa belas tahun lalu, saya pernah berjanji kepada Tuhan untuk menjadi orang yang lebih baik. Seorang sahabat karib saya di masa lalu pernah bertanya kepada saya, ingin menjadi apakah saya nanti? Ingin seperti apakah saya dikenang kalau saya tidak lagi ada di dunia ini? Saat itu, saya tampaknya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Namun setelah beberapa belas tahun berjalan, saya rasa apabila teman karib saya bertanya lagi kepada saya pertanyaan yang sama, saya akan menjawab "Saya ingin menjadi orang yang luar biasa. Bukan hanya sekedar baik."

Saya ingin menjadi dan dikenal sebagai orang yang luar biasa.
Luar biasa dalam integritas saya.
Luar biasa dalam prioritas saya.
Luar biasa dalam kerendahan hati.
Luar biasa dalam mempertahankan iman saya.
Saya ingin menjadi dan dikenal sebagai orang tua yang luar biasa.

Ssaya sadar bahwa dunia kita sekarang ini secara mayoritas dengan cepat berubah menjadi dunia yang hanya mementingkan diri sendiri dan memamerkan kesuksesan mereka secara menyolok. Dimana keberhasilan diumumkan sendiri oleh orang yang bersangkutan tanpa rasa malu.

Saya ingin menjadi pribadi yang unik yang dapat berdiri teguh dan tidak tergoyahkan.
Saya ingin menjadi pribadi yang tidak terintimidasi oleh masalah yang saya hadapi.
Saya ingin menjadi pribadi yang tidak takut akan rintangan yang muncul di depan.
Saya ingin menjadi pribadi yang tidak sombong atas keberhasilan yang saya dapatkan.

Saya belum disana. Namun hei, cerita perjalanan saya belum berakhir. Bagaimana dengan Anda? Akan menjadi seperti apakah cerita Anda? Bagaimanakah Anda ingin dikenal dan dikenang?

Monday, July 9, 2012

Top Of The World

"Perjuangan pantang menyerah ditunjukkan Regina Ivannova Pollapa untuk meraih mimpinya menjadi penyanyi terkenal. Setelah 6 kali gagal, Regina akhirnya berhasil menjadi juara Indonesian Idol 2012."

Setiap dari kita berusaha mencapai kesuksesan. Cukup banyak dari kita yang dengan mudah merasa iri dengan rekan kerja, dengan saudara, dengan atasan, dengan bawahan, dengan sahabat. Rasa gelisah muncul dan meningkat dengan cepat ketika persaingan meningkat.

Tekanan untuk mendapatkan kesuksesan terasa begitu nyata dan menyakitkan. Cukup banyak dari kita yang belum merasa menjadi 'seseorang' kalau kita belumlah sukses. Semua waktu, tenaga, sumber daya, pemikiran kita curahkan dan habiskan untuk mengejar yang namanya kesuksesan.

Saya salut dan mengacungkan jempol kepada teman-teman saya yang sudah mencapai tingkat kesuksesan dengan berani keluar dari zona nyaman mereka. Berinovasi dengan hal-hal baru atau bahkan bisa memberikan dampak positif yang lebih besar kepada orang lain lewat hidup mereka. Saya berharap saya bisa seperti mereka suatu hari nanti.

Anda dan saya tentu tahu bahwa tidak semua puncak kesuksesan dibarengi dengan pendewasaan diri. Oleh karenanya tidak heran bahwa kebanyakan orang yang paling merasa kesepian dan paling tidak merasa puas adalah mereka-mereka yang berada di puncak kesuksesan. Mereka mungkin telah berada disana, tetapi sebagian besar dari mereka merasa kesepian, kosong, dan berusaha menemukan arti keberadaan hidup mereka.

Kita melhihat begitu banyak orang berbakat dan kita bahkan mendorong mereka untuk maju. Kita berusaha menemukan cara agar membuat orang-orang berbakat ini tetap sibuk tanpa sadar kita menggantikan integritas mereka dengan popularitas. Akibatnya? Karena mereka tidak memiliki akar yang kuat, gelisah dan dangkal dan tidak bertanggung jawab, mereka jatuh. Dan disaat mereka jatuh, kita terkejut dan bertanya-tanya kenapa mereka bisa jatuh.

Lihatlah acara-acara di televisi saat ini dimana hampir semua acara menawarkan kesuksesan awal pada mereka yang berusia muda. Bisa jadi mereka direkrut setelah mereka lulus SMP / SMU dan mereka belum menjalani pelatihan kehidupan. Mereka menandatangani kontrak senilai ratusan juta atau milyaran rupiah per tahun. Mreeka tidak pernah dipersiapkan secara matang akan apa yang harus mereka hadapi. Dan, seluruh mata melihat dan semua mulut tampaknya membicarakan ketika bintang-bintang muda ini jatuh kedalam narkoba, perselingkuhan untuk menenteramkan kekecewaan dan rasa sakit mereka.

Mereka tidak dapat mengontrol kesuksesan mereka. Tepuk tangan, pujian, sorakan mungkin memabukkan mereka. Mereka mungkin tidak tahu tentang nilai-nilai kehidupan yang lebih sederhana dan lebih mendalam. Mungkin lapisan hidup mereka rentan pecah dan kehidupan mereka dihancurkan oleh rasa tergesa-gesa dalam mencari kesuksesan dan perlombaan menuju puncak kesuksesan.

Benar bahwa Anda dan saya kemungkinan besar tidak pernah ditawari kontrak bernilai ratusan juta atau milyaran rupiah. Anda tidak perlu tergesa-gesa dalam mencapai kesuksesan. Kenapa? Karena Tuhan memiliki rencana kesuksesanNya untuk Anda sendiri dan saya. Baik apabila Anda memiliki sebuah bidang yang Anda tekuni. Tetapi cobalah untuk menjadi orang yang pandai dalam bidang apa pun juga. Lakukan yang terbaik yang dapat Anda lakukan dengan apa yang telah Tuhan berikan kepada Anda.

Saya juga berharap seperti pemenang Indonesian Idol 2012, Regina, tidak hanya menorehkan prestasi cukup sebagai Indonesian Idol tapi World Idol dan juga saya harap karakter dia pun sudah terasah ketika dia sedang berada di puncak kesuksesan dia saat ini. Sama seperti Regina, Jika rencana Tuhan adalah membawa Anda ke tingkat kesuksesan yang lebih tinggi, Dia akan melakukan itu dalam waktuNya. Bagian Anda saat ini adalah menyingkir sejenak dari panggung dan memberikan kendali kepadaNya. Biarkan Dia yang mengambil alih. Karena kesuksesan yang Dia berikan kepada Anda mungkin bukanlah tentang uang. Bukan tentang harta. Tetapi saya yakin kesuksesan yang Dia berikan kepada Anda adalah kesuksesan yang berasal dari hati. Dimana hati Anda merasa penuh dan tidak kekurangan apa pun juga.

Mahalnya Keheningan

Everything becomes a little different as soon as it is spoken out loud. - Hermann Hesse

Kata-kata. Semua itu ada dimana-mana. Baik kata-kata verbal maupun non-verbal. Kita mendengar kata-kata verbal dari teman, radio, televisi, gadget kita.

Kita mendengar kata-kata non-verbal dari papan reklame, majalah, surat kabar, spanduk. Bayangkan, di lift pun ada musik. Mungkin Anda tidak terlalu menyadari hal ini, tetapi benar bahwa lift-lift sekarang ini dilengkapi dengan lagu.

Pernahkah Anda ikut bernyanyi saat lagu kesukaan Anda diputar di lift? Saya tidak. Meskipun hal tersebut tidak terlalu berguna, tetapi kenyataannya musik tetap diputar di dalam lift untuk mengisi keheningan.

Ketika Anda masuk ke dalam mobil Anda, segera Anda menyalakan radio, pemutar musik dari CD / iPod Anda. Mungkin bukan hal yang aneh ketika Anda melihat seseorang menggunakan headphone saat mereka mengendarai motor sekarang ini.

Kita dipenuhi dengan kebisingan. Bahkan di bagian terdalam perpustakaan, masih ada orang yang berbisik-bisik dan berbicara. Di dalam bioskop masih ada orang yang sibuk menelpon atau mengobrol pelan. Di gereja pun tidak jarang kita mendengar orang masih mengobrol. Belum lagi saat Anda sedang enak-enaknya tidur, tiba-tiba di depan rumah Anda ada sepeda motor dengan knalpotnya yang bising lewat. (beeuh ..)

Di dunia kita sekarang ini, keheningan adalah sesuatu yang mahal harganya. Kita harus membayar lebih untuk mendapatkan keheningan. Mungkin saya salah, tetapi rasanya harga untuk bisa pergi ke pantai yang indah dan sepi harganya jauh lebih mahal ketimbang pergi ke kota-kota besar yang bising. Betapa terkadang kita perlu memaksa diri kita untuk menekan tombol "pause" untuk semua kebisingan itu.

Tidak semua orang mau mengambil keputusan besar untuk hidup dalam kesunyian. Pernahkah Anda merasa keheningan itu terasa begitu nyata sehingga keheningan itu dapat menulikan telinga Anda? Kalau Anda tidak pernah merasakannya, cobalah di saat rumah Anda mati lampu nanti. Disaat mati lampu, banyak teman saya justru tidak bisa tidur karena suasana terlalu hening. (Diluar tidak adanya AC dan listrik)

Rasanya penting untuk setiap kita menekan tombol pause untuk menghentikan kebisingan yang ada di dalam hidup kita. Dalam keheningan kita mencari makna hidup. Kita dapat menemukan siapa diri kita. Apa kebutuhan kita. Kita dapat berpikir lebih mendalam. Kita dapat berdoa lebih khusyuk. Kita dapat merefleksikan nilai-nilai kita. Kita dapat berjalan dengan lebih enteng. Kita bisa memperlambat hidup kita. Sayangnya, kebanyakan orang menganggap aneh ketika seseorang memutuskan untuk hidup sementara waktu dalam 'keheningan'.

Beberapa dari kita bahkan menjadi sumber kebisingan. Karena kebanyakan dari kita tanpa sadar berbicara terlalu banyak sehingga kita bahkan tidak bisa mengingat apa yang kita ucapkan. Kita telah memberi jawab kepada pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan. Kita menyusun kata-kata, dimana hanya sedikit yang memberikan makna dan menarik perhatian orang lain. Jadi tanpa sadar kita terus berbicara-berbicara-berbicara dan berbicara. Kapan Anda terakhir kali menarik diri untuk masuk ke dalam keheningan?

Retret Rohani bersama Tuhan

"Sometimes its better off from life, and finding yourself in a dark ... with God holding your hands" - Tre Haushinka

Mungkin terdengar sedikit galau, tetapi beberapa hari / minggu terakhir, jujur saya merasa kosong. Seakan saya menjalani hidup sebagai sebuah rutinitas belaka. Hidup saya pun merasa begitu kosong dan sepi.

Beberapa kali saya mencoba untuk melakukan aktifitas ini dan itu namun saya tetap merasa kosong. Saya juga mencoba untuk pergi dengan teman-teman namun akhir-akhirnya saya rasa lebih baik saya pergi sendirian daripada nanti teman-teman saya terkena sindrom galau saya. Sudah beberapa minggu terakhir saya juga selalu ke gereja sendirian dan yes, it not feel so great eventhough the sermon is always great.

Mungkin Tuhan sengaja membuat keadaan saya sepi dan sendiri seperti ini karena Dia ingin mengalihkan perhatian saya kepadaNya? Bisa jadi.

Tadi pagi saya mencoba merenung, berusaha memutar balik pemikiran saya. Berusaha tetap berpikir positif meski susah. Rasanya saya perlu waktu untuk retret rohani dengan diri saya sendiri. Saya perlu menanyakan apa yang menjadi kebutuhan diri saya sendiri. Ingin rasanya saya mengambil liburan dan pergi meninggalkan kehidupan saya untuk sementara. Tidak menulis, tidak berpikir tentang ini itu, tidak berhadapan dengan gadget, komputer. Tidak disibukkan dengan hal-hal lain dan retret ini hanya untuk saya, diri saya, dan Tuhan.

Saya tahu bahwa orang lain akan tetap hidup meskipun saya mengambil cuti retret rohani ini. Kenyataannya, saya ada atau tidak, kehidupan orang lain sebenarnya akan terus berjalan. Terdengar sarkasme dan radikal memang, tetapi orang lain tidak terlalu membutuhkan saya seperti saya membutuhkan menemukan kelegaan rohani ini.

Mungkin tidak terlalu masuk akal, tetapi saya rasa seperti yang saya bilang, untuk saat ini, mungkin Tuhan memang membuat situasi dan kondisinya terlihat seakan-akan pertarungan di ring ini hanya untuk saya dan Tuhan. Kebanyakan dari kita dengan mudah tenggelam dengan rasa galau atau perasaan-perasaan yang membuat kita bersalah. Kita jarang mau mengambil cukup waktu untuk melihat sisi positif dari hidup kita. Kita jarang mau menghitung berapa banyak berkat-berkat yang telah dan pernah masuk ke dalam hidup kita meski hal tersebut terasa kecil dan tidak berarti. Meski saya galau, saya bersyukur atas keluarga, nafas, kesehatan, pekerjaan, Tuhan, pendengaran, teman-teman, pendapatan, waktu, umur dan lainnya.

Anda dan saya perlu berjalan lebih lambat dan melihat pekerjaan-pekerjaan Tuhan lewat hal-hal lain seperti alam. Ketika kita melakukan retret rohani dengan Tuhan, kita tidak memerlukan panduan "Hal-hal yang perlu dilakukan sebelum matahari tenggelam" atau "Sepuluh Langkah Menuju Sukses". Tidak, kita hanya perlu melihat semua hal dengan lebih lambat.

Anda mungkin perlu merenungkan kembali masa lalu Anda.
Anda mungkin perlu merenungkan keputusan-keputusan Anda dan masa depan Anda.
Anda mungkin perlu mengenang apa yang telah Anda lakukan.
Anda mungkin perlu menyusun kembali prioritas dan motivasi-motivasi Anda.
Ya, tentu saja hal tersebut memerlukan waktu. Banyak waktu. Tetapi waktu yang kita habiskan dalam retret rohani kita bersama Tuhan mempersiapkan kita untuk tantangan yang akan datang dalam kehidupan kita.

Hari ini dan esok hari saya masih menjalani retret rohani bersama Tuhan. Saya berusaha secepat mungkin menyelesaikan retret ini meski Tuhan yang memegang kendali atas hidup saya dan Dia ingin saya berjalan lebih lambat bersamaNya.

Thursday, July 5, 2012

Tidur = Asal kemalasan?

No day is so bad it can't be fixed with a nap. ~ Carrie Snow

Beberapa hari terakhir, entah karena memang terlalu banyak pikiran yang mandek, atau memang pengaruh umur yang tidak lagi muda, atau memang karena sedang tidak fit, saya merasa sangat letih dan bawaannya mau pergi ke pulau kapuk di ranjang tersayang.

Bahkan ketika saya bangun di pagi harinya setelah saya puas tidur pun, saya masih merasa kurang tidur. Menangkal rasa kantuk, entah sudah berapa sachet kopi yang saya tenggak untuk membuat kelopak mata ini setidaknya masih terbuka. Lucunya, selagi saya menyeruput kopi saya, pikiran saya menyuruh saya untuk membuat blog tentang masalah tidur ini.

Saya menyadari bahwa tidur adalah sebuah eksklusifitas yang kita dapat selama kita hidup di dunia. Tidur hanya kita dapatkan di dunia. Di surga kita tidak tidur karena kita sibuk memuji Tuhan, hidup bersamaNya. Saya tidak pernah mendapatkan bacaan atau referensi bahwa kita membutuhkan tidur di surga. Di neraka pun kita tidak tidur karena kita sibuk disiksa oleh iblis-iblis. Saya juga tidak pernah mendapatkan bacaan atau referensi bahwa kita boleh meminta waktu sebentar untuk tidur di sela-sela Iblis menyiksa jiwa-jiwa di neraka.

Sadarkah Anda karena Tuhan tidak pernah tidur, maka Iblis pun juga tidak pernah tidur? Tuhan tidak pernah melepaskan pandangannya untuk melindungi dan memberkati kita. Sedangkan Iblis juga tidak pernah melepaskan pandangannya dari kita untuk menipu, mencobai dan menerkam kita. Bahkan di saat kita tidur pun, Tuhan memberkati kita. Dan satu sisi, di saat kita tidur, Iblis masih berusaha menyesatkan kita.

Karena kita masih hidup dalam tubuh yang berupa daging ini, maka kita butuh tidur. Tidur berfungsi untuk memulihkan, menyegarkan. Setiap masalah berat dapat terasa lebih ringan apabila kita tidur secukupnya. Dan setiap dari kita butuh tidur yang cukup. Tuhan Allah menyadari hal ini, dan karena berkatNya yang melimpah seperti udara yang Dia berikan kepada kita secara bebas setiap harinya, maka setiap hari pun kita membutuhkan tidur. Tanaman butuh tidur, binatang butuh tidur, bahkan orang-orang terkeji di muka bumi pun butuh tidur, bukan?

Tuhan mengajarkan dan menyuruh kita untuk hanya tidur SECUKUPNYA. Kenapa? Karena Tuhan tahu tidur yang berlebihan akan membuat kita malas dan kemalasan akan merugikan kita. Saya selalu menyukai ayat dari Amsal tentang kemalasan akibat kebanyakan tidur.

6:9 Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu?
6:10 "Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring"
6:11 maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.

Ams. 19:15 Kemalasan mendatangkan tidur nyenyak, dan orang yang lamban akan menderita lapar.

Saya merasa dijewer oleh Tuhan saat menuliskan ayat ini lagi, karena ya, untuk beberapa waktu belakangan saya sering sekali tidur melewati waktu 'snooze' saya dan akhirnya saya merasa kurang tidur dan akibatnya saya menjadi malas. Saya yakin banyak dari Anda semua yang juga memiliki kesulitan untuk bangun pagi atau kebanyakan dari kita ingin pergi tidur disaat setelah jam makan siang atau saat hari sedang hujan.

Benar bahwa kebanyakan orang malas menghabiskan waktu mereka dengan tidur nyenyak. Kalau Anda mengetik kata 'lazy' di Google / Yahoo pun, saya yakin kemalasan diidentikan dengan tidur. Saya jadi ingat akan omelan teman saya saat dia melihat seorang tukang ojek yang sedang tidur di pangkalan ojek di daerah Gunung Sahari. Dia berkata "Gimana mau kaya? Bukannya cari penumpang, siang-siang gini tidur. Muter, kek cari penumpang."

Seperti yang saya tulis di atas bahwa tidur adalah sebuah eksklusifitas. Tidak semua orang dapat tidur secara berkualitas. Banyak saya baca artis-artis atau orang berduit pun memiliki kesulitan tidur. Uang tidak dapat membeli tidur yang berkualitas. Saya rasa kebanyakan dari kita(khususnya saya) perlu melatih hidup tidak malas dan melatih hidup tidak mudah mengantuk atau mudah menjadi malas. Apalagi karena orang Indonesia yang terkenal malasnya dan saya tidak bangga menjadi Indonesia-ers yang malas. Hei! Saya tidak mau hidup miskin di kemudian hari hanya karena saya malas. Dan kekayaan hanya bisa didapatkan kalau kita tidak malas.